Belajar Transisi Energi Jadi Lebih Hidup, UPER Dampingi Siswa SMA Depok Lewat Proyek Nyata

Azka · 27 Agt 2026 · 4 mnt

Rendahnya capaian literasi sains dan matematika pelajar Indonesia dalam PISA 2022 menjadi sinyal bahwa cara mengajarkan sains di sekolah perlu terus diperbarui. Skor yang masih di bawah rata-rata negara-negara OECD tersebut bukan sekadar angka, melainkan cerminan bahwa siswa Tanah Air membutuhkan ruang belajar yang lebih dekat dengan kenyataan, terutama untuk memahami persoalan rumit seperti transisi energi yang melibatkan banyak sisi, mulai dari teknologi, sosial, ekonomi, sampai lingkungan hidup.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Pertamina mencoba pendekatan yang berbeda dengan mengajak siswa SMAN 1 Depok belajar energi tidak lagi lewat hafalan, melainkan lewat pengalaman mengerjakan proyek secara langsung. Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk UPERAISAL 2026 Universitas Pertamina tersebut digagas oleh dosen dari dua program studi sekaligus, yakni Hubungan Internasional dan Teknik Logistik, dan berlangsung dalam dua tahap pada 22 Mei serta 19 Juni 2026.

Metode project-based learning sengaja dipilih agar siswa memiliki bekal berpikir yang lebih matang, bukan hanya paham konsep di atas kertas.

Silvia Dian Anggraeni, Dosen Hubungan Internasional UPER yang memimpin tim pengabdian masyarakat, menuturkan alasan di balik pemilihan pendekatan tersebut. Baginya, siswa perlu diajak keluar dari kebiasaan sekadar menghafal konsep energi, lalu didorong untuk mengaitkan pengetahuan tersebut dengan persoalan yang benar-benar mereka temui di lingkungan sekitar. Cara belajar semacam itu, menurut Silvia, membuat pengetahuan yang didapat siswa terasa lebih bermakna karena langsung bersinggungan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari.

Klaim mengenai efektivitas pembelajaran berbasis proyek pun bukan tanpa bukti ilmiah. Sebuah meta-analisis yang dilakukan Zhang dan Ma pada 2023 terhadap 66 studi berbeda mengonfirmasi bahwa metode tersebut mampu mendongkrak capaian akademik siswa, mengasah keterampilan berpikir, sekaligus membentuk sikap belajar yang lebih positif. Dalam pelaksanaannya bersama siswa SMAN 1 Depok, konsep tersebut diterjemahkan melalui sesi diskusi dan pembahasan studi kasus seputar transisi energi, yang pada akhirnya bermuara pada satu output konkret berupa proyek infografis karya siswa sendiri.

Puncak dari rangkaian program terjadi pada 19 Juni 2026, ketika 16 kelompok siswa unjuk gigi mempresentasikan hasil kerja mereka soal isu-isu energi di hadapan panel dosen Universitas Pertamina. Panel tersebut beranggotakan Silvia Dian Anggraeni, Yelita Anggiane Iskandar, Ardila Putri, Novita P. Rudiany, serta M. Fauzi Abdul Rachman. Setelah melalui proses penilaian yang mempertimbangkan kreativitas, kedalaman substansi, kemampuan komunikasi, hingga sisi inovasi, enam kelompok akhirnya keluar sebagai kelompok terbaik dan mendapat apresiasi khusus dari tim juri.

Lebih jauh, Silvia menekankan bahwa nilai utama dari pembelajaran berbasis proyek justru terletak pada prosesnya, bukan semata hasil akhir presentasi. Selama program berjalan, siswa dilatih terbiasa berdiskusi, menyaring informasi yang benar-benar relevan, serta berlatih menyampaikan sekaligus mempertahankan argumen berdasarkan data yang telah mereka himpun sendiri. Kebiasaan tersebut, menurutnya, membentuk cara pandang siswa terhadap persoalan energi menjadi jauh lebih kritis dan terbuka terhadap berbagai sudut pandang.

Dampak positif program pun tergambar jelas dari hasil evaluasi yang dilakukan tim pengabdian masyarakat. Skor rata-rata peserta tercatat naik 6,15 persen, dari 84,2 pada saat pre-test menjadi 89,38 ketika post-test dilaksanakan setelah rangkaian pembelajaran berbasis proyek rampung. Peningkatan tersebut menjadi indikator kuat bahwa metode belajar seperti ini efektif membuat siswa tidak sekadar aktif secara fisik dalam kelas, tetapi juga benar-benar menyerap pemahaman tentang transisi energi secara utuh.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, turut menyoroti pentingnya keterkaitan antara literasi energi dan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Menurutnya, memahami konsep energi bersih saja tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan kemampuan beradaptasi dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang terus berkembang. Ia menegaskan bahwa transisi energi ke depan membutuhkan sosok-sosok muda yang solutif dan adaptif terhadap perubahan zaman, bukan sekadar paham teori semata.

Prof. Ichsan turut menjelaskan bahwa komitmen tersebut telah diwujudkan Universitas Pertamina melalui peminatan Geopolitik dan Keamanan Energi pada Program Studi Hubungan Internasional. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi konkret kampus dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya di bidang pendidikan berkualitas serta energi bersih dan terjangkau, sembari terus mempersiapkan generasi muda agar siap menghadapi tantangan transisi energi di Indonesia.

Kolaborasi antara UPER dan SMAN 1 Depok membuktikan bahwa proses belajar mengajar tidak melulu soal duduk di kelas dan mencatat teori, melainkan juga soal keberanian menghubungkan ilmu dengan realitas yang ada di sekitar. Bagi siswa maupun calon mahasiswa yang tertarik merasakan atmosfer belajar yang aplikatif, kolaboratif, dan penuh tantangan semacam ini, saatnya menjajaki lebih jauh berbagai program studi yang ditawarkan lewat Pendaftaran Universitas Pertamina.