Loading...

Pendapatan Nasional Produk Dosmetik Bruto Nasional PBD PNB Neto Menghitung

eko10 gambar bab 7 gambar 7 8

Daftar Isi

Konsep-Konsep Penting Mengenai Pendapatan Nasional

Sebelum Anda mempelajari tentang pendapatan nasional, ada baiknya Anda mengenal dahulu beberapa konsep yang masih berhubungan dengan pendapatan nasional ini.

Produk Dosmetik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto/PDB (Gross Domestic Product/GDP) menghitung nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara selama satu tahun. Barang dan jasa yang dihasilkan ini dihitung tanpa memerhatikan siapa pemilik faktor produksi tersebut. Artinya, barang dan jasa tersebut bisa diproduksi oleh warga negara yang bersangkutan maupun warga negara asing yang bekerja di wilayah negara tersebut.

Nilai produksi perusahaan multinasional yang ada di Indonesia masuk dalam hitungan PDB.

Gambar 7.1 Nilai produksi perusahaan multinasional yang ada di Indonesia masuk dalam hitungan PDB.

Pernahkah Anda mendengar istilah ”Perusahaan multinasional atau Multi National Corporation (MNC)?” Contoh perusahaan multinasional ini adalah Coca Cola, Kentucky Fried Chicken (KFC), atau Mc Donald yang beroperasi di beberapa negara. MNC membantu menaikkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai negara tempat beroperasinya perusahaan ini. MNC menyediakan modal, teknologi, dan tenaga ahli di negara tersebut. MNC tersebut membantu menambah barang atau jasa dan penggunaan tenaga kerja, sehingga operasi perusahaan merupakan bagian yang cukup penting dalam kegiatan ekonomi suatu negara, serta nilai produksinya dihitung dalam Produk Domestik Bruto. Padahal, pemilik perusahaan multinasional bukan berasal dari negara tempat beroperasinya perusahaan ini.

Dengan demikian, Produk Domestik Bruto/PDB (Gross Domestic Product/GDP) adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi baik milik warga negara maupun orang asing yang tinggal di suatu negara tersebut. Berdasarkan pengertian ini, maka penghasilan warga negara yang bekerja di luar negeri tidak ikut diperhitungkan, tetapi penghasilan orang asing yang bekerja di negara tersebut dimasukkan dalam perhitungan.

Produk Nasional Bruto (PNB)

Produk Nasional Bruto/PNB (Gross National Product/GNP), dihitung dengan menjumlahkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara tersebut baik yang tinggal di dalam negeri maupun di luar negeri. Nilai produksi yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang digunakan di luar negeri juga dihitung dalam Produk Nasional Bruto.

Dalam Produk Nasional Bruto tidak dihitung produksi yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik penduduk negara lain. Jadi, keuntungan perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia tidak dihitung dalam Produk Nasional Bruto Indonesia. Sebaliknya, pendapatan pekerja-pekerja Indonesia (TKI/TKW) yang bekerja di Arab Saudi dimasukkan ke dalam perhitungan Produk Nasional Bruto Indonesia.

Bagaimana, dapatkah Anda membedakan antara PDB dan PNB? Secara matematis, yang membedakan antara PDB dengan PNB adalah pendapatan neto atas faktor dari luar negeri (nett factor income from abroad). Variabel ini menunjukkan besarnya pendapatan yang diperoleh dari faktor produksi yang ada di luar negeri dikurangi pendapatan yang diperoleh dari faktor produksi yang berasal dari orang asing di dalam negeri. Dengan demikian dapat ditulis:

PNB = PDB + PFPN

Keterangan

PDB : Produk Domestik Bruto.

PNB : Produk Nasional Bruto.

PFPN : Pendapatan Neto atas Faktor Produksi dari Luar Negeri

Apabila PFPN bernilai negatif, berarti pembayaran terhadap faktorfaktor pendapatan luar negeri lebih besar daripada penerimaan atas balas jasa faktor produksi dalam negeri yang digunakan oleh perekonomian luar negeri. Angka ini menunjukkan bahwa nilai impor faktor produksi lebih besar daripada ekspor faktor produksi.

Tugas Kelompok

Manakah yang lebih besar bagi Indonesia, Produk Nasional Bruto (PNB) ataukah Produk Domestik Bruto (PDB)? Mengapa demikian? Diskusikan dengan kelompok Anda!

Produk Nasional Neto (PNN)

Angka-angka produk nasional di atas disebut bruto, karena di dalamnya masih tercakup biaya produksi yang belum dipotong, yaitu penyusutan. Dalam setiap harga pasar, suatu barang mengandung nilai depresiasi (penyusutan). Penyusutan sesungguhnya termasuk biaya produksi yang harus diperhitungkan dalam harga pokok dan tidak dapat dihitung sebagai laba. Industri-industri akan menggunakan barangbarang modal (mesin, peralatan produksi, bangunan, dan perabot kantor) untuk menghasilkan barang-barang. Nilai barang-barang modal tersebut akan semakin susut (berkurang) dari satu periode ke periode berikutnya. Susutnya nilai tersebut merupakan bagian dari ongkos produksi. Oleh sebab itu, dalam setiap harga penjualan suatu barang dimasukkan nilai depresiasi barang modal. Dengan kata lain, besarnya pendapatan nasional pada harga pasar telah memasukkan nilai penyusutan barang modal yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan nasional.

Pendapatan nasional yang belum memperhitungkan unsur depresiasi dinamakan Produk Nasional Bruto (PNB). Untuk memperoleh Produk Nasional Neto/PNN (Net National Product/NNP) nilai depresiasi tadi harus dikurangkan dari Produk Nasional Bruto. Persamaannya menjadi sebagai berikut.

PNN = PNB – Depresiasi

Pendapatan Nasional Neto (PN)

Pendapatan Nasional Neto/PN (Net National Income/NNI) adalah produk nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung (misalnya cukai rokok, bea impor, pajak penjualan, dan lain-lain) ditambah subsidi.

Pajak tidak langsung harus dikurangkan, karena tidak mencerminkan balas jasa atas faktor produksi. Uang pajak memang diterima oleh penjual/produsen bersama harga pasar barang yang dijualnya, tetapi uang pajak itu wajib diserahkan kepada pemerintah. Sedangkan subsidi harus ditambahkan karena harga-harga tertentu yang dibuat lebih murah daripada biaya produksi sesungguhnya, misalnya untuk subsidi harga pupuk, BBM, atau beras.

PN = PNN – Pajak tidak langsung + Subsidi

Pendapatan Perseorangan

Pendapatan Perseorangan (Personal Income/PI) adalah bagian pendapatan nasional yang merupakan hak individu-individu dalam perekonomian, sebagai balas jasa keikutsertaan mereka dalam proses produksi. Tetapi tidak semua pendapatan sampai ke tangan masyarakat karena masih dikurangi dengan laba yang ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan sosial, dan ditambah dengan pembayaran pindahan/transfer (transfer payment) dan pendapatan bunga yang diperoleh dari pemerintah dan konsumen. Pendapatan perseorangan dapat ditulis dalam rumus berikut.

PI = NNI + Transfer payment + Pendapatan bunga – (laba ditahan + iuran asuransi + iuran jaminan sosial)

Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi

Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi (Personal Income Disposable) adalah pendapatan perseorangan yang dipakai oleh individu, baik untuk membiayai konsumsinya maupun untuk ditabung. Besarnya pendapatan perseorangan siap konsumsi adalah pendapatan perseorangan dikurangi pajak penghasilan.

Pendapatan perseorangan siap konsumsi = pendapatan per seorangan – pajak penghasilan

Dari produk domestik bruto sampai ke pendapatan perseorangan siap konsumsi dapat diringkas sebagai berikut.

Produk Domestik Bruto (PDB)

– Menurut lapangan usaha.

– Menurut jenis pengeluaran.

Ditambah (+) = Pendapatan faktor produksi domestik yang ada di luar negeri.

Dikurangi (–) = Pembayaran faktor produksi luar negeri yang ada di dalam negeri.

                              ––––––––––––––––––––––––––––––––––––

                           = Produk Nasional Bruto (PNB).

Dikurangi (–) = Penyusutan/Depresiasi.

                               ––––––––––––––––––––––––––––––––––––

                           = Produk Nasional Neto (PNN).

Dikurangi (–) = Pajak Tidak Langsung.

Ditambah (+) = Subsidi

                           ––––––––––––––––––––––––––––––––––––

                          = Pendapatan Nasional (PN).

Dikurangi (–) = Laba ditahan.

Dikurangi (–) = Pembayaran asuransi.

Dikurangi (–) = Pembayaran jaminan sosial.

Ditambah (+) = Pendapatan bunga.

Ditambah (+) = Pembayaran transfer.

                           ––––––––––––––––––––––––––––––––––––

                           = Pendapatan perseorangan.

Dikurangi (–) = Pajak penghasilan.

                              ––––––––––––––––––––––––––––––––––––

                              Pendapatan perseorangan siap konsumsi.

 

Pendapatan Per Kapita

Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk pada suatu negara pada waktu tertentu. Nilainya diperoleh dari membagi nilai Produk Nasional Bruto atau Produk Domestik Bruto tahun tertentu dengan jumlah penduduk pada tahun tersebut.

Pendapatan per kapita = pendapatan Nasional Bruto (PNB) / Jumlah Penduduk

Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai indikator pembangunan yang menunjukkan tingkat kesejahteraan rakyat. Selain itu, pendapatan per kapita sering digunakan untuk membedakan tingkat kemajuan ekonomi antarnegara.

Menghitung Pendapatan Nasional

Ada tiga cara menghitung pendapatan nasional, hal ini tergantung dari cara pandang atau pendekatan yang digunakan serta metode perhitungannya.

Pendekatan Produksi

Dengan menggunakan metode produksi, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan produksi barang dan jasa selama satu tahun (biasanya satu tahun kalender). Volume produksi dihitung menurut sektor usaha dan dinilai dalam uang (Rp). Hasil totalnya disebut Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk keperluan ini perekonomian Indonesia dibagi ke dalam sembilan sektor lapangan usaha. Kesembilan lapangan usaha ini adalah:

  1. Pertanian.
  2. Pertambangan dan penggalian.
  3. Industri.
  4. Listrik, gas, dan air bersih.
  5. Bangunan atau konstruksi.
  6. Perdagangan, hotel, dan restoran.
  7. Pengangkutan dan komunikasi.
  8. Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan.
  9. Jasa-jasa lain.

Setiap sektor tersebut masih dibagi lagi ke dalam subsektor. Contoh sektor pertanian dibagi lagi menjadi subsektor sebagai berikut.

  1. Tanaman bahan makanan.
  2. Tanaman perkebunan.
  3. Peternakan dan hasil-hasilnya.
  4. Hasil hutan.
  5. Hasil perikanan.

Perhitungan pendapatan nasional dengan cara produksi lebih banyak dilakukan di negara-negara berkembang. Berikut ini akan disajikan data Produk Domestik Bruto Indonesia tahun 2003 sampai 2005.

No Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (Triliun Rupiah) Atas Dasar Harga Konstan 2000 ( Triliun Rupiah
2003 2004 2005 2003 2004 2005
1 pertanian, perternakan, kehutanan dan perikanan 325,7 354,4 365,6 243,1 252,9 254,4
2 pertambangan dan penggalian 169,5 196,9 285,1 168,4 160,7 162,2
3 industri pengolahan 590,1 652,7 766,0 441,8 469,1 491,7
4 listrik, gas dan air bersih 19,5 22,9 25,0 10,4 11,1 11,6
5 bangunan 112,6 134,4 173,4 90,1 97,5 103,4
6 perdagangan, hotel dan restoran 337,8 372,3 429,9 256,3 271,2 294,4
7 pengangkutan dan komunikasi 118,3 140,6 181,0 85,0 95,8 109,4
8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 174,3 194,5 228,1 140,1 150,9 162,0
9 Jasa-jasa 198,1 234,3 275,6 144,4 151,5 160,0
PDB 2.045,9 2.303,0 2.729,7 1.579,6 1.660,6 1.749,5

Dalam perhitungan GDP ada beberapa kegiatan produksi yang tidak masuk dalam perhitungan. Beberapa kegiatan tersebut sebagai berikut.

  1. Pembayaran transfer/pindahan, yaitu pemindahan sejumlah uang dari kantong yang satu ke kantong yang lain tanpa disertai produksi. Misalnya pembayaran pensiun, subsidi, undian, bunga atas utang negara, hadiah, warisan, dan sumbangan bencana alam.
  2. Kenaikan dan penurunan nilai barang-barang modal karena inflasi atau depresiasi. Transaksi saham dan obligasi juga tidak diperhitungkan dalam GDP karena tidak berhubungan dengan produksi baru.
  3. Kegiatan-kegiatan ilegal, antara lain penyelundupan barang-barang dagang, produksi ganja, dan heroin, serta kegiatan-kegiatan terlarang lainnya.
  4. Kegiatan ibu rumah tangga seperti memasak untuk keluarga tidak masuk dalam perhitungan pendapatan nasional.

    Gambar 7.2 Kegiatan ibu rumah tangga seperti memasak untuk keluarga tidak masuk dalam perhitungan pendapatan nasional.

    Perdagangan barang-barang bekas, yang berarti tidak ada penciptaan produk baru. Misalnya Anda membeli komputer bekas, sepeda bekas, dan lain sebagainya. Yang masuk dalam perhitungan pendapatan nasional adalah produksi baru.

  5. Kegiatan-kegiatan yang memang tidak dihitung, misalnya jasa ibu rumah tangga yang mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan rumah. Akan tetapi, apabila ibu rumah tangga tersebut mencucikan pakaian ke tukang cuci serta membayar upahnya, maka perbuatan tersebut dihitung dalam perhitungan sektor jasa.

Pendekatan Pengeluaran

Di negara-negara yang perekonomiannya maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, pendekatan yang sering digunakan adalah dengan metode pengeluaran. Cara tersebut lebih dapat memberikan keterangan-keterangan mengenai tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai. Keterangan-keterangan tersebut menggambarkan masalah ekonomi suatu negara atau tingkat pertumbuhan yang dicapai dan tingkat kemakmuran yang sedang dinikmati.

Ada empat unit ekonomi yang digunakan dalam perhitungan pendapatan nasional dengan cara pengeluaran, yaitu:

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

Membayar jasa angkutan dan membeli kendaraan termasuk pengeluaran rumah tangga.

Gambar 7.3 Membayar jasa angkutan dan membeli kendaraan termasuk pengeluaran rumah tangga.

Nilai belanja atau pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen untuk membeli berbagai jenis kebutuhan dalam satu tahun tertentu disebut pengeluaran konsumsi rumah tangga dan ditulis dengan huruf C (consumption). Pendapatan yang diterima oleh rumah tangga akan digunakan untuk membeli makanan, pakaian, membayar jasa angkutan, membiayai pendidikan anak, membeli kendaraan, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak semua transaksi yang dilakukan oleh rumah tangga digolongkan sebagai konsumsi, misalnya pengeluaran untuk membeli rumah digolongkan sebagai investasi (I).

Pengeluaran Pemerintah

Salah satu pengeluaran pemerintah adalah untuk membayar gaji polisi.

Gambar 7.4 Salah satu pengeluaran pemerintah adalah untuk membayar gaji polisi.

Pemerintah membeli barang terutama untuk kepentingan masyarakat, misalnya pengeluaran untuk menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, untuk membayar gaji pegawai pemerintah, membayar polisi dan tentara, serta pengeluaran untuk mengembangkan sarana dan prasarana. Semua pengeluaran tersebut dimasukkan ke dalam pengeluaran pemerintah dan ditulis dengan huruf G (government expenditure).

Memberi beasiswa, bantuan korban bencana alam, dan subsidi-subsidi pemerintah tidak dimasukkan sebagai pengeluaran pemerintah atas pendapatan nasional, karena pengeluaran itu bukan untuk membeli barang dan jasa, melainkan pembayaran transfer.

Investasi

Investasi (I = investment) atau pembentukan modal sektor swasta adalah pengeluaran untuk membeli barang modal yang dapat menaikkan produksi barang dan jasa di masa akan datang. Contoh investasi ini antara lain membeli mesin, peralatan produksi, membangun gedung perkantoran, dan mendirikan bangunan pabrik. Sekarang Anda pasti paham kalau investasi merupakan pengeluaran yang dilakukan bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk digunakan dalam kegiatan memproduksi di waktu mendatang. Pada dasarnya, investasi dibedakan atas tiga jenis pengeluaran sebagai berikut.

  • Pengeluaran untuk barang modal dan peralatan produksi.
  • Perubahan-perubahan dalam nilai investasi pada akhir tahun.
  • Pengeluaran-pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal.

Ekspor Neto

Nilai ekspor (X = export) yang dilakukan suatu negara dalam tahun tertentu dikurangi nilai impor (M = import) dalam periode yang sama dinamakan ekspor neto (X – M). Ekspor suatu negara biasanya terdiri atas barang-barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri. Oleh sebab itu, nilainya harus dihitung ke dalam pendapatan nasional. Bagaimana dengan impor? Barang impor merupakan produksi masyarakat negara lain sehingga tidak perlu dihitung dalam pendapatan nasional. Yang perlu dihitung ke dalam pendapatan nasional hanyalah ekspor neto, yaitu ekspor setelah dikurangi dengan impor.

Bursa Info

Pengembangan UKM Ekspor

Pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) tidak akan banyak artinya bila tidak mempertimbangkan lingkungan strategis yang terkait dengan pengembangan usaha UKM itu sendiri. Diperlukan cara pandang yang lebih luas dalam pengembangan UKM, khususnya dalam memperkecil kendala dan hambatan yang dihadapinya. Oleh karena itu, upaya pengembangan UKM tidak hanya bisa dilaksanakan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dan simultan dengan unit/instansi/lembaga terkait dan dilaksanakan secara berkesinambungan.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh UKM ekspor saat ini adalah kesulitan memperoleh informasi pemasaran dan pembeli di luar negeri. Sehubungan dengan itu, peran Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) dalam mempromosikan produk-produk ekspor nonmigas menjadi sangat penting, terutama untuk memasarkan produk-produk UKM ekspor.

BPEN memberikan pelayanan informasi dan promosi ekspor untuk meningkatkan kemampuan UKM memasuki pasar internasional dengan produk-produk yang bermutu dan harga yang bersaing. Untuk itu, BPEN memberikan pembinaan untuk menunjang promosi UKM serta meningkatkan kualitas SDM dalam mempromosikan produk mereka ke pasar internasional.

Perusahaan UKM yang akan dibina harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: mempunyai syarat administrasi dan hukum sebagai badan usaha, UKM produsen, produknya berpotensi ekspor, memiliki kemampuan suplai, memiliki kekayaan tidak lebih dari Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan), perusahaan yang berdiri sendiri (bukan anak perusahaan cabang atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan besar), perusahaan milik warga negara Indonesia (WNI), nilai penjualan tidak melebihi Rp1,2 miliar per tahun, perusahaan tidak bermasalah dengan hukum dan diutamakan perusahaan yang pernah memperoleh penghargaan.

Sumber: www.nafed.go.id

Perhitungan pendapatan nasional dengan metode pengeluaran dalam perekonomian terbuka dapat dirumuskan sebagai berikut.

Y = C + I + G + (X-M)

Keterangan

Y:National Income (Pendapatan Nasional).

C:Consumption (pengeluaran konsumsi rumah tangga).

I:Investment (pembentukan modal sektor swasta).

G:Government Expenditure (pengeluaran pemerintah).

X:Export

M:Import

Berikut ini data yang diperlukan dalam perhitungan pendapatan nasional.

Konsumsi Rp27.500.000,00
investasi/ pengeluaran swasta Rp39.000.000,00
pengeluaran pemerintah Rp13.500.000,00
ekspor Rp 9.000.000,00
impor Rp 6.500.000,00

Dengan menggunakan rumus di atas, maka perhitungannya adalah:

Y = C + I + G + (X – M)

Y = Rp27.500.000,00 + Rp39.000.000,00 + Rp13.500.000,00 + (Rp9.000.000,00 – Rp6.500.000,00)

Y=  Rp82.500.000,00

Berikut ini tabel data produk domestik bruto Indonesia tahun 2003 hingga 2005 dengan menggunakan pendekatan pengeluaran yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik.

Tabel 7.2 Nilai PDB menurut Pengeluaran Tahun 2003 Hingga 2005

No Komponen Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku (Triliun Rupiah) Atas Dasar Harga Konstan 2000 ( Triliun Rupiah)
2003 2004 2005 2003 2004 2005
1 Konsumsi Rumah Tangga 1.372,08 1.532,39 1.785,6 956,59 1.003,81 1.043,8
2 Konsumsi Pemerintah 163,70 187,77 225,0 121,40 123,77 136,4
3 Pembentukan modal tetap bruto

 

386,22 483,44 599,8 310,78 359,60 389,8
4 a. Perubahan investasi

 

-26,17 40,90 7,2 -4,71 39,98 4,3
b. Statistik diskrepansi -6,04 -33,07 -6,2 16,74 10,99 48,5
5 Ekspor 627,06 711,78 915,6 612,56 664,46 739,0
6 Dikurangi impor 471,00 620,18 797,3 433,81 542,04 612,3
PDB 2.045,85 2.303,03 2.729,7 1.579,55 1.660,57 1.749,5

Pendekatan pendapatan

Pasti Anda pernah mempelajari tentang faktor produksi bukan? Coba sebutkan ada berapa macam faktor produksi tersebut. Ya, tepat sekali. Faktor produksi ada empat kelompok, yaitu tenaga kerja, tanah, modal, dan kewirausahaan/pengusaha. Apabila faktor-faktor produksi tersebut digunakan dalam proses produksi, mereka akan memperoleh pendapatan berupa balas jasa.

Bentuk-bentuk balas jasa dari faktor produksi tersebut adalah:

  1. Balas jasa dari tenaga kerja berupa upah dan gaji.
  2. Tanah dan harta tetap lainnya memperoleh sewa.
  3. Modal memperoleh bunga.
  4. Kewirausahaan/pengusaha memperoleh keuntungan/laba.

Dari penjumlahan pendapatan-pendapatan tadi akan diperoleh nilai pendapatan nasional yang berbeda dengan nilai pendapatan nasional berdasarkan kedua pendekatan lainnya. Pendapatan nasional dengan menjumlahkan balas jasa faktor produksi disebut produk nasional menurut harga faktor. Dengan demikian, menurut pendekatan pendapatan, pendapatan nasional merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara selama satu tahun, yang dihitung dengan rumus:

NI = W + R + I + π

Keterangan

NI : National Income (Pendapatan Nasional).

W: Wages (upah pekerja).

R:Rent (sewa tanah).

I:Interest (bunga modal).

π: Profit (laba pengusaha).

Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor andalan negara.

Gambar 7.5 Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor andalan negara.

Setelah Anda belajar tentang pendapatan nasional, tentu Anda bisa merasakan manfaatnya, bukan? Yang pasti pengetahuan Anda makin bertambah. Tetapi apakah hanya itu saja? Tentu tidak, banyak manfaat atau kegunaan dari perhitungan pendapatan nasional ini, apalagi untuk suatu negara. Apa sajakah itu?

  1. Membandingkan kemajuan Perekonomian dari Waktu ke Waktu
  2. Membandingkan Perekonomian Antarnegara/Antardaerah
  3. Merumuskan Kebijakan Pemerintah

Inflasi dan Indeks Harga

Anda telah mempelajari tentang beberapa masalah pembangunan. Salah satu masalah tersebut adalah inflasi. Anda akan mengenal lebih dalam tentang inflasi.

Inflasi

Kenaikan harga barang dapat bersifat sementara atau berlangsung terus-menerus. Ketika kenaikan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadi hampir pada seluruh barang dan jasa maka gejala ini disebut inflasi. Jadi, kenaikan harga pada satu atau dua jenis barang tidak dapat dikategorikan sebagai inflasi.

Dengan demikian, inflasi (inflation) adalah kenaikan harga barangbarang yang bersifat umum dan terus-menerus. Lawan dari inflasi adalah deflasi (deflation), yaitu kondisi di mana tingkat harga mengalami penurunan terus-menerus.

Dari penjelasan di depan, ada tiga komponen yang menjadi indikasi kenaikan harga hingga dikategorikan sebagai inflasi, yaitu adanya kenaikan harga, kenaikan harga tersebut bersifat umum dan berlangsung terus-menerus.

Jenis-Jenis Inflasi

Berdasarkan tingginya inflasi per tahun, inflasi digolongkan menjadi inflasi ringan (di bawah 10% per tahun), sedang (10% hingga 25%), berat (25% hingga 100%), dan hiperinflasi (lebih dari 100%).

Berdasarkan Tingginya Inflasi

Berdasarkan tingginya inflasi per tahun, inflasi digolongkan menjadi inflasi ringan (di bawah 10% per tahun), sedang (10% hingga 25%), berat (25% hingga 100%), dan hiperinflasi (lebih dari 100%).

Berdasarkan Sumber Penyebab

Berdasarkan sumber penyebabnya, inflasi digolongkan menjadi inflasi tekanan permintaan (demand full inflation) dan inflasi dorongan biaya (cost push inflation). Inflasi tekanan permintaan terjadi karena meningkatnya permintaan atau pembelian masyarakat terhadap barang dan jasa. Sedangkan inflasi dorongan biaya bersumber dari kenaikan biaya produksi, misalnya kenaikan harga bahan baku, energi, atau upah pekerja. Inflasi juga dapat terjadi karena kedua sebab tersebut (inflasi campuran).

Berdasarkan Asalnya

Berdasarkan asalnya, inflasi digolongkan menjadi inflasi dari dalam negeri (domestic inflation) dan inflasi dari luar negeri (imported inflation).

Teori-Teori Inflasi

Gejala-gejala inflasi dapat dijelaskan dengan teori-teori inflasi.

Kuantitas
Irving Fisher

Gambar 7.6 Irving Fisher

Teori kuantitas tergolong teori inflasi yang paling awal. Meskipun demikian, masih bisa digunakan untuk menjelaskan proses inflasi pada zaman modern saat ini. Teori ini dipelopori oleh Irving Fisher. Teori ini menekankan bahwa inflasi dipengaruhi oleh pertambahan jumlah uang beredar dan anggapan masyarakat terhadap kenaikan harga-harga (faktor psikologis). Menurut teori kuantitas, apabila penawaran uang bertambah maka tingkat harga umum juga akan naik. Hubungan langsung antara harga dan kuantitas uang seperti yang digambarkan oleh teori kuantitas uang sederhana dapat digunakan untuk menerangkan situasi inflasi.

Teori Keynes
John Maynard Keynes

Gambar 7.7 John Maynard Keynes

Menurut Keynes, inflasi terjadi karena ada sebagian masyarakat yang ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi merupakan proses perebutan bagian rezeki di antara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini terlihat pada keadaan di mana permintaan masyarakat terhadap barang-barang selalu melebihi jumlah barang yang tersedia. Hal ini menimbulkan apa yang disebut celah inflasi atau inflationary gap. Celah inflasi timbul karena golongangolongan masyarakat berhasil mewujudkan keinginan mereka menjadi permintaan efektif (permintaan berdaya beli) terhadap barang-barang dan jasa. Golongan masyarakat tersebut adalah pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja. Pemerintah berusaha memperoleh pendapatan yang besar dengan cara mencetak uang baru. Pengusaha melakukan investasi dengan modal yang diperoleh dari kredit bank. Sedangkan pekerja berusaha memperoleh kenaikan upah/gaji agar bisa lebih banyak membeli barang dan jasa. Inflasi akan terus berlangsung selama jumlah permintaan efektif dari semua golongan masyarakat tersebut melebihi jumlah output yang dihasilkan.

Teori Strukturalis

Teori strukturalis disusun berdasarkan pada pengalaman di negara-negara Amerika Latin. Teori ini memberikan perhatian besar terhadap struktur perekonomian di negara berkembang. Inflasi di negara berkembang terutama disebabkan oleh faktorfaktor struktur ekonominya. Menurut teori ini, kondisi struktur ekonomi negara berkembang yang dapat menimbulkan inflasi adalah:

  1. Ketidakelastisan Penerimaan Ekspor Nilai ekspor di negara berkembang tumbuh secara lamban dibandingkan pertumbuhan sektor-sektor lain. Adapun penyebabnya adalah harga produk-produk pertanian yang tidak stabil atau rendah dan produksi barang-barang ekspor tidak mampu mengikuti perubahan harga.
  2. Ketidakelastisan Penawaran atau Produksi Makanan di Dalam Negeri Produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan pendapatan per kapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung naik, sehingga melebihi kenaikan harga barang-barang lain. Dampak yang ditimbulkan adalah munculnya tuntutan karyawan untuk mendapat kenaikan upah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan kenaikan ongkos produksi. Hal ini berarti akan menaikkan harga barang-barang. Kenaikan harga barang-barang tersebut mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi. Kenaikan upah kemudian diikuti oleh kenaikan harga barang-barang, begitu seterusnya.

Proses Terjadinya Inflasi di Indonesia

Bagaimana cara kita menjelaskan proses terjadinya inflasi di Indonesia? Seperti Anda ketahui, inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi kekurangan penurunan akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaan (output gap). Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (aggregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif. Hal ini tercermin dari pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan dan penentuan upah minimum regional (UMR). Agar lebih jelas, perhatikan bagan berikut.

Diagram inflasi

Gambar 7.8 Diagram inflasi

Dari bagan di atas, kita dapat mengelompokkan inflasi di Indonesia menjadi dua macam, yaitu:

Inflasi Inti

Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental, yaitu:

  1. Interaksi permintaan-penawaran.
  2. Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditas internasional, inflasi mitra dagang.
  3. Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
Inflasi Non-Inti

Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Dalam hal ini terdiri atas:

  1. Inflasi Volatile Foods Inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, gangguan penyakit.
  2. Inflasi Administered Prices Inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan, dan lain-lain.

Dampak Inflasi Terhadap Kegiatan Ekonomi

Inflasi mempunyai dampak terhadap individu maupun bagi kegiatan perekonomian secara luas. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif ataupun positif, tergantung pada tingkat keparahannya. Laju inflasi yang terlalu tinggi akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menyengsarakan masyarakat yang berpenghasilan tetap dan rendah. Berikut ini adalah dampak yang ditimbulkan oleh inflasi.

Dampak Positif Inflasi

Pengaruh positif inflasi terjadi apabila tingkat inflasi masih berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku. Misalnya, pada saat itu tingkat bunga kredit adalah 15% per tahun dan tingkat inflasi 5%. Bagi negara maju, inflasi seperti ini akan mendorong kegiatan ekonomi dan pembangunan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi, karena para pengusaha/ wirausahawan di negara maju dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang dan jasa.

Dampak Negatif Inflasi

Inflasi yang terlalu tinggi membawa dampak yang tidak sedikit terhadap perekonomian, terutama tingkat kemakmuran masyarakat. Dampak inflasi tersebut, antara lain

Dampak Inflasi terhadap Pemerataan Pendapatan

Inflasi akan merugikan orang yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan dan pegawai negeri. Kerugian lain akibat inflasi juga akan dialami oleh mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang kas (uang tunai) atau mereka yang menyimpan uang kas di rumah (hoarding). Adapun pihak-pihak yang mendapat keuntungan dengan adanya inflasi adalah orang yang persentase kenaikan pendapatannya melebihi persentase kenaikan inflasi, mereka yang memiliki kekayaan dalam bentuk barang atau emas, dan buruh yang tergabung dalam serikat pekerja yang kuat, sehingga mereka dapat menuntut kenaikan upah melebihi kenaikan laju inflasi.

eko10 gambar bab 7 gambar 7 9

Gambar 7.9 Inflasi cenderung merugikan mereka yang berpendapatan tetap seperti pegawai negeri sipil (PNS).

Apa yang dapat Anda simpulkan dari penjelasan di atas? Ternyata, inflasi memberi dampak yang berbeda. Ada masyarakat yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan, maka dengan adanya inflasi, kesenjangan pendapatan masyarakat akan semakin terlihat.

Dampak Inflasi terhadap Output (Hasil Produksi)

Dampak inflasi terhadap hasil produksi akan terjadi dua kemungkinan, yaitu bisa meningkatnya hasil produksi. Dalam keadaan inflasi, biasanya kenaikan harga barang mendahului upah/gaji, sehingga keuntungan yang diperoleh para pengusaha akan meningkat.

Mendorong Penanaman Modal Spekulatif

Inflasi menyebabkan para pemilik modal cenderung melakukan kegiatan spekulatif. Hal ini dilakukan dengan membeli rumah, tanah, dan emas yang nilainya relatif stabil. Cara ini dirasa oleh mereka lebih menguntungkan.

Menyebabkan Tingkat Bunga Meningkat dan Akan Mengurangi Investasi

Untuk menghindari kemerosotan nilai uang dari modal yang mereka pinjamkan, lembaga keuangan akan menaikkan suku bunga pinjaman. Apabila tingkat inflasi tinggi, suku bunga juga tinggi. Tingginya suku bunga pinjaman akan mengurangi penanaman modal untuk membuka usahausaha produktif.

Menimbulkan Ketidakpastian Keadaan Ekonomi di Masa Depan
eko10 gambar bab 7 gambar 7 10

Gambar 7.10 Penimbunan banyak terjadi pada masa inflasi.

Tingkat inflasi yang cukup parah dan gagal dikendalikan oleh pemerintah akan berdampak pada ketidakpastian ekonomi. Selanjutnya, arah perkembangan ekonomi sulit diramalkan. Keadaan ini akan mempersulit masyarakat (konsumen) maupun pengusaha. Konsumen cenderung melakukan penimbunan barang karena takut barang tidak tersedia. Produsen akan sulit memperhitungkan biaya produksi karena harga bahan baku terus berubah.

Menimbulkan Masalah Neraca Pembayaran

Inflasi di dalam negeri menyebabkan harga barang-barang impor menjadi lebih murah sehingga masyarakat lebih menyukai barang impor. Hal ini berpengaruh pada terjadinya defisit neraca pembayaran dan kemerosotan nilai mata uang dalam negeri.

Cara Mengatasi Inflasi

Inflasi ternyata memiliki dampak yang merugikan masyarakat, terutama masyarakat miskin dan golongan berpenghasilan tetap. Dalam tingkat yang tinggi, inflasi dapat mengganggu jalannya perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah melalui Bank Indonesia memiliki kebijakan untuk mengendalikan inflasi. Yang dimaksud dengan mengendalikan di sini bukan menghilangkan inflasi sama sekali, tetapi berusaha mencapai tingkat inflasi yang ideal (diharapkan).

Berikut ini, Anda akan mengenal beberapa kebijakan pemerintah dalam mengendalikan inflasi.

Kebijakan Moneter

Menurut teori moneter klasik, inflasi terjadi karena penambahan jumlah uang beredar. Dengan demikian, secara teoretis relatif mudah untuk mengatasi inflasi, yaitu dengan mengendalikan jumlah uang beredar itu sendiri. Kebijakan moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar terlalu berlebihan sehingga inflasi meningkat tajam, Bank Indonesia akan segera menerapkan berbagai kebijakan moneter untuk mengurangi peredaran uang. Jenis-jenis kebijakan moneter tersebut antara lain penetapan persediaan kas, politik diskonto, dan operasi pasar terbuka. Pada dasarnya, kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan mengurangi jumlah uang beredar.

Kebijakan Fiskal
eko10 gambar bab 7 gambar 7 11

Gambar 7.11 Pajak yang dibayarkan masyarakat merupakan salah satu instrumen pengendali inflasi.

Bagaimana kebijakan fiskal dapat mengendalikan inflasi? Seperti Anda ketahui, kebijakan fiskal adalah kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal dilakukan pemerintah untuk mengurangi inflasi adalah mengurangi pengeluaran pemerintah, menaikkan tarif pajak dan mengadakan pinjaman pemerintah.

Kebijakan Non-Moneter dan NonFiskal
eko10 gambar bab 7 gambar 7 12

Gambar 7.12 Operasi pasar adalah salah satu cara mengamankan distribusi barang.

Selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, pemerintah melakukan kebijakan nonmoneter/ nonfiskal dengan tiga cara, yaitu menaikkan hasil produksi, menstabilkan upah (gaji), dan pengamanan harga, serta distribusi barang.

Indeks Harga

Anda telah mempelajari tentang inflasi, lantas bagaimana cara mengetahui perkembangan inflasi? Ya, kita dapat menggunakan indeks harga. Indeks harga merupakan suatu ukuran statistik untuk menyatakan perubahan-perubahan harga yang terjadi dari satu periode ke periode lainnya.

Biasanya, indeks harga ditetapkan atas hasil pengumpulan data oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Penetapan indeks harga ini bukan berasal dari seluruh jenis barang dan jasa yang beredar di pasaran, melainkan hanya diambil beberapa barang (sampel). Masing-masing harga barang dan jasa tersebut diberi bobot (weighted) berdasarkan tingkat keutamaannya. Barang dan jasa yang dianggap paling penting diberi bobot yang lebih besar.

Metode Penghitungan Indeks Harga

Ada dua metode yang digunakan dalam menghitung angka indeks harga, yaitu metode indeks tidak tertimbang (metode agregatif sederhana) dan metode angka indeks ditimbang (metode agregatif tertimbang).

Metode Agregatif Sederhana

Dalam metode agregatif sederhana, semua barang dianggap sama dan dijumlahkan secara agregatif (keseluruhan) baik untuk tahun dasar maupun tahun yang akan dihitung angka indeksnya. Angka indeks dengan metode sederhana dirumuskan:

IA = ΣPn /ΣPo x 100%

Keterangan

IA = Indeks harga agregatif.

Pn = Harga-harga pada tahun ke-n (tahun yang akan dihitung).

P0 = Harga-harga pada tahun dasar.

Σ = Jumlah

Contoh

Perhatikanlah tabel berikut

Tabel 7.3 Harga Enam Macam Barang Tahun 2004,2005 dan 2006

Bahan Makanan Harga (Rp) pada Tahun
2004 2005 2006
Beras 3.000 3.500 4.000
Bawang putih 9.000 10.000 12.000
Minyak goreng 4.500 4.800 5.000
Gula pasir 5.300 5.600 6.000
Cabai merah 12.000 15.000 20.000
Telur 6.900 7.200 7.500
Jumlah 40.700 46.10075 54.500

Jika tahun 2004 sebagai tahun dasar, indeks harga tahun 2005 dan 2006 dihitung sebagai berikut.

I2005,2004 = ΣP2005 / ΣP2004 x 100% = 54.500/40.700 x 100% = 113,27

I2006,2004 = ΣP2006 / ΣP2004 x 100% = 54.500/40.700 x 100% = 133.90

Angka indeks tersebut dapat diartikan bahwa pada tahun 2005, harga enam macam barang mengalami kenaikan sebesar 13,27% dibanding tahun 2004. Tanda % pada nilai tersebut tidak dinyatakan karena setiap menghitung indeks artinya selalu dalam persentase sehingga tidak perlu ditulis lagi.

Metode Agregatif Tertimbang

Dalam perhitungan angka indeks sederhana (tidak ditimbang) seperti yang telah diuraikan sebelumnya, terdapat banyak kelemahan. Kelemahan perhitungan angka indeks tidak ditimbang muncul terutama karena adanya penggabungan harga barang, padahal barang-barang yang dihitung memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, dalam metode yang kedua kita akan mengikutsertakan faktor penimbang (bobot) bagi setiap jenis barang yang akan dihitung angka indeksnya. Perhitungan angka indeks tertimbang dirumuskan sebagai berikut.

I0.n = ΣW.Pn / ΣW.Po

Keterangan:

I0 · n = Indeks harga ditimbang untuk tahun n dengan tahun dasar tahun 0.

Pn = Harga pada tahun ke-n.

P0 = Harga pada tahun dasar.

W = Bobot (faktor penimbang).

¦ = Jumlah

Dalam metode perhitungan angka indeks agregatif tertimbang terdapat tiga pendekatan, yaitu:

Metode Laspeyres

Metode ini dikemukakan oleh Laspeyres, yaitu suatu metode penghitungan dengan angka indeks tertimbang dengan menggunakan faktor penimbang kuantitas harga pada tahun dasar (Qo). Menurut Laspeyres, secara kuantitatif kebutuhan itu jumlahnya tidak berubah.

Metode Paasche

Berbeda dengan metode Laspeyres, metode Paasche mengasumsikan bahwa kuantitas barang mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Metode Marshall

Metode Marshall dilakukan dengan cara menggabungkan kuantitas tahun dasar dengan kuantitas tahun ke-n sebagai faktor pembanding.

Jenis-Jenis Indeks Harga

Angka indeks harga dibedakan menjadi tiga macam:

Indeks Harga Konsumen

Indeks harga konsumen adalah suatu ukuran statistik yang dapat menunjukkan perubahan-perubahan pada harga komoditas dan jumlah barang yang dibeli konsumen dari waktu ke waktu. Indeks harga konsumen disusun oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan data yang berasal dari konsumen, produsen, lembaga-lembaga konsumen, dan sebagainya. Penetapan indeks harga konsumen dilakukan dengan metode tertentu. Adapun waktu dasar yang dipergunakan adalah tahun di mana ekonomi dianggap dalam keadaan stabil. Indeks harga konsumen diambil dari data empat kelompok, yaitu kelompok makanan, perumahan, aneka barang, dan jasa. Dari kelompok-kelompok tersebut dihasilkan indeks harga konsumen (IHK). Persentase perubahan harga konsumen akan menghasilkan angka inflasi.

Indeks Harga Perdagangan Besar/Indeks Harga Produsen
eko10 gambar bab 7 gambar 7 13

Gambar 7.13 Barang-barang yang termasuk kelompok bahan makanan.

Jika IHK melihat inflasi dari sisi konsumen, maka indeks harga perdagangan besar (IHPB) melihat inflasi dari sisi produsen. Oleh karena itu, IHPB sering juga disebut indeks harga produsen (IHP). Indeks harga perdagangan besar merupakan angka indeks yang menunjukkan perubahan pada harga pembelian barang oleh para pedagang besar. Berbeda dengan indeks harga konsumen yang ditetapkan dalam satuan kecil, indeks harga perdagangan besar ditetapkan dalam ukuran/ kuantitas borongan. Besar kecilnya indeks harga perdagangan besar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain: a) Kenaikan biaya produksi. b) Kebijakan perdagangan pemerintah. c) Kebijakan dalam bidang moneter. d) Perubahan nilai uang.

Indeks Harga yang Diterima dan Dibayar Petani
eko10 gambar bab 7 gambar 7 14

Gambar 7.14 Harga pupuk diperhitungkan dalam indeks harga yang dibayar petani.

Indeks harga yang diterima petani adalah indeks harga yang berhubungan dengan penetapan harga dasar untuk barang-barang hasil pertanian. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani berhubungan dengan penetapan harga kebutuhan pertanian misalnya pupuk, benih, dan obat pembasmi hama. Kedua angka indeks tersebut dapat dijadikan ukuran yang menunjukkan besarnya perubahan pada harga-harga produk yang dijual petani dan produk yang dibeli petani. Angka indeks yang diterima petani dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya harga pembelian obat-obatan yang diperlukan petani, jumlah hasil produksi, dan musim. Sedangkan angka indeks yang dibayarkan petani sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, politik dagang, dan nilai uang. Kebijakan pemerintah untuk bidang pertanian seharusnya mulai memihak pada petani karena selama ini indeks yang dibayar petani masih terlalu besar dibandingkan indeks yang diterima petani.

Bursa Info

Nilai Tukar Petani (NTP)

Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Nilai tukar petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (IT) dengan indeks harga yang dibayar petani (IB) yang dinyatakan dalam persentase. Secara konsepsional, NTP adalah pengukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam memproduksi produk pertanian.

Secara umum NTP menghasilkan tiga pengertian:

  1. NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar.
  2. NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar.
  3. NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar.

Harga yang diterima petani adalah rata-rata harga produsen dari hasil produksi petani sebelum ditambahkan biaya transportasi/pengangkutan dan biaya pengepakan ke dalam harga penjualannya atau disebut farm gate (harga di sawah/ladang setelah pemetikan). Pengertian harga ratarata adalah harga yang bila dikalikan dengan volume penjualan petani akan mencerminkan total uang yang diterima petani tersebut. Data harga tersebut dikumpulkan dari hasil wawancara langsung dengan petani produsen. Sedangkan harga yang dibayar petani adalah rata-rata harga eceran barang/jasa yang dikonsumsi atau dibeli petani, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri maupun untuk keperluan biaya produksi pertanian. Data harga barang untuk keperluan produksi pertanian dikumpulkan dari hasil wawancara langsung dengan petani, sedangkan harga barang/jasa untuk keperluan konsumsi rumah tangga dicatat dari hasil wawancara langsung dengan pedagang atau penjual jasa di pasar terpilih.

Bagaimana cara memperoleh data NTP ini? Data NTP diperoleh dari publikasi BPS Pusat, yaitu Buletin Ringkas dan Buletin Indikator Ekonomi yang diterbitkan setiap bulan. Klasifikasi indeks yang tercakup dalam publikasi tersebut adalah:

  1. Indeks harga yang diterima petani (IT) terdiri atas: Indeks sektor tanaman bahan makanan (TBM):

1) Indeks kelompok padi

2) Indeks kelompok palawija

3) Indeks kelompok sayur-sayuran

4) Indeks kelompok buah-buahan

  1. Indeks sektor tanaman perkebunan rakyat (TPR): Indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat c. Indeks harga yang dibayar petani (IB) terdiri atas:

 1) Indeks sektor konsumsi rumah tangga (KRT):

  1. a) Indeks kelompok makanan
  2. b) Indeks kelompok perumahan
  3. c) Indeks kelompok pakaian
  4. d) Indeks kelompok aneka barang dan jasa

2) Indeks sektor biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM):

  1. a) Indeks kelompok nonfaktor produksi
  2. b) Indeks kelompok upah
  3. c) Indeks kelompok lainnya
  4. d) Indeks kelompok penambahan barang modal

4) Indeks Harga Implisit

Walaupun sangat bermanfaat, IHK dan IHPB memberikan gambaran laju inflasi yang sangat terbatas. Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya, dapat digunakan indeks harga implisit (GNP deflator). Dengan metode ini, Anda dapat membandingkan pertumbuhan ekonomi nominal dengan pertumbuhan ekonomi riil.

GNP deflator adalah rasio GNP (Gross National Product) nominal pada tahun tertentu terhadap GNP riil pada tahun tersebut. Hal ini merupakan ukuran inflasi dari periode di mana harga dasar untuk perhitungan GNP riil digunakan sampai GNP sekarang. Perhitungan cara ini melibatkan semua barang yang diproduksi.

Misalnya, Indonesia memproduksi dua jenis barang, yaitu radio dan televisi. Pada tahun 1996, jumlah produksi radio adalah 1.000 buah dan produksi televisi berjumlah 500 buah. Harga radio Rp50.000,00 per buah, sedangkan harga televisi Rp500.000,00 per buah. Pada tahun 2006, produksi kedua barang tersebut mengalami peningkatan dari segi jumlah dan harganya. Produksi radio menjadi 1.500 buah dan televisi 750 buah. Sedangkan harga radio naik menjadi Rp80.000,00 dan harga televisi naik menjadi Rp800.000,00 maka GNP deflator tahun 2006 dapat dihitung sebagai berikut.

Tabel 7.4 Perhitungan GNP Deflator Tahun 2006

Tahun Radio Televisi GNP Nominal
Jumlah harga (Rp) Jumlah harga (Rp)
1996 1000 50000 500 500000 (1.000 × Rp50.000,00) + (500 × Rp500.000,00) = Rp300.000.000,00
2006 1500 80000 750 800000 (1.500 × Rp80.000,00) + (750 × Rp800.000,00) = Rp720.000.000,00

GNP riil tahun 2006 dengan menggunakan tingkat harga tahun sebagai tahun dasar 1996 adalah:

(1.500 × Rp50.000,00) + (750 × Rp500.000,00) = Rp75.000.000,00 + Rp375.000.000,00 = Rp450.000.000,00

GNP deflator tahun 2006 adalah:

Rp 720.000.000/Rp 450.000.000 x 100% = 160 %

Oleh karena tahun dasar sebagai pembanding terhadap periode lain selalu diberi nilai seratus maka, dalam periode tahun 1996 hingga 2006 terjadi kenaikan harga sebesar 60%

(160% – 100 = 60%), atau rata-rata 60/10 % = 6% per tahun

Menghitung Inflasi dengan Indeks Harga

Untuk mengukur besarnya laju inflasi dapat menggunakan indeks harga seperti yang telah Anda pelajari di depan. Laju inflasi dapat dicari dengan rumus:

Inflasi = IH – IH-1 / IH1 x 100 %

Keterangan:

IHK = Indeks harga periode ini.

IHK-1 = Indeks harga periode sebelumnya.

Daftar harga beras dari tahun 2004 sampai dengan 2006.

Tahun  Harga (Rp)
2004 2500
2005 2800
2006 3100

Berdasarkan data di atas:

1) Hitunglah indeks harga (IH)!

2) Hitunglah laju inflasi tahun 2005 dan 2006 dengan tahun dasar tahun 2004!

Jawaban :

  1. IH tahun 2004 = 2500/2500 x 100% = 100%

IH tahun 2005 = 2800/2500 x 100% = 112%

IH tahun 2006 = 3100/ 2500 x 100% = 124%

 

2. laju inflasi tahun 2005 = 122-100/100 x 100% = 22%

laju inflasi tahun 2006 = 124-112/ 100 x 100% = 10.7%

Tugas Kelompok

Inflasi dapat diukur dari perkembangan harga-harga kebutuhan pokok yang ada di sekitar kita. Bersama kelompok Anda, buatlah daftar nama-nama kebutuhan pokok. Lalu, pergilah ke pasar untuk mensurvei harga kebutuhan-kebutuhan pokok tersebut. Satu bulan kemudian, catatlah perkembangan harganya. Berdasarkan perubahan harga tersebut, hitunglah inflasi bulanan dengan indeks harga konsumen. Masukkan hasil survei Anda dalam tabel seperti contoh berikut.

No Kebutuhan Pokok Harga
Bulan sekarang Bulan berikutnya
1 .. .. ..

Uji Kompetensi

A. Pilihan Ganda

1.Pendapatan per kapita adalah

a. pendapatan dari penduduk di suatu wilayah
b. pendapatan dari warga negara yang tinggal di luar negeri
c. pendapatan nasional neto dikurangi pajak tidak langsung
d. pendapatan perseorangan yang siap dikonsumsi
e. pendapatan rata-rata penduduk pada suatu negara

2. Perbedaan GNP dengan GDP terletak pada

a. tujuan produk d. pendekatan pengeluaran
b. tujuan perhitungan e. pendekatan perhitungan
c. pendekatan produksi

3. Melalui pendekatan pengeluaran, besarnya pendapatan nasional dihitung dengan rumus

a. Y = (P1 × Q1) + (P2 × Q2) + . . . (Pn × Qn)
b. Y = a + by
c. Y = r +w + i + n
d. Y = ax + by
e. Y = C + I + G + (x – m)

Pendapatan nasional dihitung berdasarkan pengeluaran oleh sektor-sektor ekonomi. Perhitungan yang digunakan adalah

a. pendapatan pemerintah d. produk domestik bruto
b. pendapatan per kapita e. produk nasional neto
c. pendapatan disposabel

5. Produk nasional neto adalah

a. pendapatan dari pemilik faktor produksi
b. GNP dikurangi pajak tidak langsung
c. jumlah barang dan jasa yang dihasilkan dalam satu tahun
d. pendapatan yang diterima masyarakat dalam satu tahun
e. GNP dikurangi penyusutan dan penggantian modal

6. Diketahui pendapatan nasional suatu negara tahun 2006 (dalam jutaan rupiah) adalah:

GNP Rp500.000,00
Penyusutan barang modal Rp 50.000,00
Pajak tidak langsung Rp 25.000,00
Transfer payment Rp 15.000,00
Pajak langsung Rp 20.000,00

Berdasarkan data di atas, pendapatan perseorangan sebesar

a. Rp440.000,00 d. Rp405.000,00
b. Rp420.000,00 e. Rp400.000,00
c. Rp410.000,00

 

7. Pendapatan per kapita tertinggi dalam tabel di bawah ini terdapat pada negara

No Nama Negara Pendapatan Nasional

(Miliar)

Jumlah Penduduk

(juta)

1 Negara A 84.000 240
2 Negara B 156.000 300
3 Negara C 192.000 320
4 Negara D 260.000 200
5 Negara E 360.000 600

 

a. A d. D
b. B e. E
c. C

8. Inflasi dorongan biaya (cost push inflation) disebabkan oleh peningkatan

a. biaya produksi d. harga produk-produk ekspor
b. pengeluaran pemerintah e. harga produk-produk impor
c. permintaan masyarakat

 

9. Data indeks harga konsumen pada bulan Januari 2006 adalah 156,25. Sedangkan pada Februari 2007 adalah 140,40. Maka besarnya laju inflasi pada bulan Februari 1996 adalah

a. 0,97 d. 2,65
b. 1,02 e. 4,15
c. 2,58

10. Dalam mengatasi inflasi, pemerintah menggunakan cara-cara berikut ini, kecuali

a. menaikkan pajak
b. menurunkan suku bunga
c. menjual surat berharga
d. pengawasan kredit secara selektif
e. menurunkan pengeluaran pemerintah

B. Soal Uraian

  1. Bedakan konsep PDB dengan PNB!
  2. Jelaskan empat unit ekonomi yang digunakan dalam perhitungan pendapatan nasional dengan cara pengeluaran!
  3. Bagaimana upaya untuk meningkatkan pendapatan per kapita terutama pada negara berkembang?
  4. Jelaskan jenis-jenis indeks harga!
  5. Jelaskan jenis-jenis kebijakan moneter yang dapat mengendalikan inflasi!

C. Soal Tantangan (Mari Belajar dari Masalah!)

Salah satu manfaat dari perhitungan pendapatan ekonomi adalah menelaah sektor-sektor perekonomian Indonesia. Sektor-sektor unggulan Indonesia yang kompetitif diharapkan dapat diperoleh melalui pembenahan strategi perekonomian menjadi lebih terarah dan konsisten. Kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia berkembang dari sektor 7 persen pada tahun 1970 menjadi 28 persen pada tahun 2005. Di sisi lain peranan sektor pertanian terhadap PDB turun dari sekitar 34 persen pada tahun 1970 menjadi sekitar 15 persen tahun 2005. Kontribusi sejumlah sektor lain, termasuk sektor jasa, tumbuh dari 28 persen pada tahun 1970 menjadi 58 persen tahun 2005.

Sumber: www.kompas.com

  1. Bagaimana menurut Anda perubahan struktur perekonomian Indonesia dari tahun 1970 sampai 2005?
  2. Pada kenyataannya sektor pertanian masih menjadi bagian terbesar dari penduduk Indonesia, bagaimana cara mempertahankan sektor ini?

D. Menuju Kompetensi Dasar

Hampir sama dengan konsep PDB, di daerah juga dikenal dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kunjungilah BPS di daerah Anda dan carilah data PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) daerah Anda empat tahun terakhir. Fotokopi atau salinlah data tersebut.

  1. Bagaimana pendapat Anda tentang pendapatan daerah Anda dari tahun ke tahun?
  2. Sektor apakah yang memberi kontribusi terbesar pendapatan daerah Anda?
  3. Sektor apa sajakah yang mungkin dapat ditingkatkan sehingga mampu memberi kontribusi yang lebih besar lagi untuk meningkatkan pendapatan daerah Anda? Mengapa? Bagaimana caranya?