Pengertian Konsumsi Tabungan Investasi Fungsi Faktor Kurva Rumus Ekonomi

eko10 gambar bab 8 gambar 8 6

Pengertian Konsumsi

Apa yang dimaksud dengan konsumsi? Konsumsi dalam arti ekonomi adalah semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri atas konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga. Dari dua komponen pengeluaran total agregatif suatu perekonomian, pengeluaran rumah tangga swasta merupakan pengeluaran agregat terbesar. Pengeluaran pemerintah digunakan untuk subsidi daerah otonom, subsidi pangan, gaji pegawai, perbaikan sarana publik, dan pembayaran cicilan utang.

Faktor-Faktor Ekonomi

Pendapatan Rumah Tangga

Pendapatan rumah tangga sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi. Biasanya makin tinggi tingkat pendapatan, tingkat konsumsinya juga akan meningkat. Mengapa demikian? Karena tingkat pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi juga semakin besar. Selain itu, dengan pendapatan tinggi pola hidup masyarakat akan semakin konsumtif.

Contohnya jika pendapatan Pak Maman sangat rendah maka keluarganya hanya mampu membeli beras untuk konsumsi dengan kualitas rendah. Lauk yang digunakan pun mungkin hanya ikan asin yang murah. Sarana hiburan yang ada di rumah juga hanya televisi hitam putih saja. Tetapi jika penghasilan Pak Maman meningkat, beras yang dipilih adalah beras berkualitas nomor satu, lauk ikan asin diganti dengan daging ayam. Demikian juga, sarana hiburan televisi hitam putih disingkirkan diganti dengan televisi warna, layar datar.

Kekayaan Rumah Tangga

Rumah dan mobil termasuk kekayaan riil.

Gambar 8.1 Rumah dan mobil termasuk kekayaan riil.

Yang termasuk dalam kekayaan rumah tangga adalah kekayaan riil dan kekayaan finansial. Kekayaan riil, misalnya rumah, mobil, dan tanah. Sedangkan kekayaan finansial adalah surat-surat berharga, saham, dan deposito berjangka. Kekayaan-kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi, karena menambah pendapatan.

Bunga deposito yang diterima tiap bulan dan dividen tiap tahun akan menambah pendapatan rumah tangga. Begitu pula jika rumah, tanah, dan mobil yang dimiliki tersebut disewakan. Penghasilan tersebut menjadi penghasilan nonupah (nonwages income). Tambahan penghasilan tersebut akan dipakai sebagai konsumsi. Tentunya hal ini akan meningkatkan pengeluaran konsumsi.

Tingkat Bunga

Tingkat bunga yang tinggi dapat mengurangi keinginan konsumsi. Dengan tingkat bunga tinggi, kegiatan konsumsi menjadi semakin mahal. Apalagi bagi mereka yang ingin mengonsumsi dengan sistem kredit, misalnya dengan meminjam bank atau menggunakan kartu kredit. Biaya bunga untuk kredit yang tinggi menyebabkan biaya konsumsi semakin mahal. Mereka lebih baik menunda atau mengurangi konsumsi.

Selain itu, tingkat bunga yang tinggi menyebabkan masyarakat lebih merasa untung jika menyimpan uangnya di bank daripada dihabiskan untuk konsumsi. Karena sebagian uangnya disimpan di bank maka uang yang tersedia untuk konsumsi berkurang.

Perkiraan Masa Depan

Jika rumah tangga memperkirakan masa depannya makin baik, mereka akan merasa leluasa untuk berkonsumsi. Karena itu pengeluaran konsumsi cenderung meningkat. Tetapi sebaliknya, jika perkiraan kondisi masa depan buruk, mereka ancang-ancang untuk menekan pengeluaran konsumsi.

Faktor-faktor internal untuk memperkirakan prospek masa depan rumah tangga antara lain apakah ayah atau ibu masih tetap bekerja? Apakah karier dan gaji akan meningkat? Atau adakah anggota keluarga lain yang akan bekerja? Sedangkan faktor-faktor eksternal yang memengaruhi perkiraan masa depan antara lain kondisi perekonomian dalam negeri dan kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

Faktor-Faktor Kependudukan

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh, walaupun pengeluaran rata-rata per orang atau per keluarga relatif rendah. Misalnya walaupun tingkat konsumsi rata-rata penduduk Indonesia lebih rendah daripada penduduk Singapura, tetapi tingkat pengeluaran konsumsi Indonesia masih lebih besar dari Singapura. Hal ini karena jumlah penduduk Indonesia lebih besar daripada Singapura, hampir lima puluh satu kali lipat. Maka tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia sangat besar.

Pengeluaran konsumsi suatu negara akan sangat besar bila jumlah penduduknya banyak dan pendapatan per kapita sangat tinggi. Contohnya terjadi pada negara Amerika Serikat dan Jepang. Pengeluaran konsumsi negara tersebut puluhan kali lipat besarnya daripada Indonesia. Walaupun jumlah penduduk hampir sama dengan Indonesia tetapi pendapatan per kapita Amerika Serikat jauh lebih besar.

Komposisi Penduduk

Keberadaan mall menyebabkan konsumsi meningkat.

Gambar 8.2 Keberadaan mall menyebabkan konsumsi meningkat.

Komposisi penduduk bisa dilihat dari beberapa klasifikasi antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan, dan wilayah tinggal. Pengaruh komposisi penduduk tersebut terhadap tingkat konsumsi dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Makin banyak penduduk yang berusia kerja atau usia produktif, maka makin besar tingkat konsumsi. Hal ini terjadi apabila didukung oleh kesempatan kerja yang tinggi dan upah kerja yang baik. Semakin banyak penduduk yang bekerja, penghasilan masyarakat juga semakin besar.
  • Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, tingkat konsumsinya juga makin tinggi. Pada saat seseorang berpendidikan tinggi, kebutuhan hidupnya makin banyak. Orang yang berpendidikan tinggi tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga kebutuhan akan pergaulan dan informasi.
  • Makin banyak penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan (urban), pengeluaran konsumsi juga makin tinggi. Sebab pola hidup masyarakat kota lebih konsumtif dibanding masyarakat pedesaan.

Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya ternyata juga berpengaruh terhadap besarnya tingkat konsumsi dalam masyarakat. Misalnya pola kebiasaan makan, perubahan etika, dan tata nilai. Contoh nyatanya adalah berubahnya kebiasaan berbelanja dari pasar tradisional ke pasar swalayan menyebabkan konsumsi meningkat karena suasana belanja yang lebih praktis dan nyaman.

Dalam kenyataannya sulit memilah faktor apa yang paling memengaruhi terjadinya perubahan konsumsi. Sebab ketiga faktor di atas saling terkait. Bisa saja dalam kelompok masyarakat berpendapatan rendah ternyata konsumsinya sangat tinggi karena pengaruh kehidupan kelompok kaya yang mereka tonton di televisi.

Tabungan

Faktor sosial budaya ternyata juga berpengaruh terhadap besarnya tingkat konsumsi dalam masyarakat. Misalnya pola kebiasaan makan, perubahan etika, dan tata nilai. Contoh nyatanya adalah berubahnya kebiasaan berbelanja dari pasar tradisional ke pasar swalayan menyebabkan konsumsi meningkat karena suasana belanja yang lebih praktis dan nyaman.

Dalam kenyataannya sulit memilah faktor apa yang paling memengaruhi terjadinya perubahan konsumsi. Sebab ketiga faktor di atas saling terkait. Bisa saja dalam kelompok masyarakat berpendapatan rendah ternyata konsumsinya sangat tinggi karena pengaruh kehidupan kelompok kaya yang mereka tonton di televisi.

Tabungan Pemerintah

Tabungan pemerintah hampir seluruhnya berasal dari kelebihankelebihan penerimaan pemerintah secara keseluruhan atas pengeluaran konsumsi pemerintah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tabungan pemerintah tidaklah terlalu besar. Hanya ada sedikit kasus di mana tabungan pemerintah terutama dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap tabungan pemerintah secara keseluruhan. Pada umumnya peran tabungan pemerintah memang sangat kecil. Cara yang paling sering digunakan untuk memobilisasi tabungan pemerintah adalah melalui peningkatan rasio pengumpulan pajak terhadap GNP, reformasi struktur pajak, dan jika mungkin melalui peningkatan tingkat pajak yang telah ada.

Bursa Info

Menghentikan Utang Luar Negeri dengan Tabungan Pemerintah

Sudah seharusnya pemerintah mengurangi pinjaman luar negeri karena sekarang saatnya memikirkan kemandirian. Dalam arti kita harus mampu menggunakan dana-dana yang ada di masyarakat daripada harus berutang. Hanya saja ada dua masalah, yaitu dari mana dana dalam negeri dan bagaimana kalau dana dalam negeri tidak bisa menggantikan dana luar negeri.

Pinjaman luar negeri merupakan selisih dari biaya untuk membangun, dikurangi tabungan pemerintah. Karena tabungan pemerintah tidak cukup untuk membangun maka harus meminjam. Agar pinjaman luar negeri kecil, maka tabungan pemerintah harus banyak. Caranya dengan efisiensi pengeluaran rutin.

Tabungan pemerintah merupakan penerimaan pemerintah dikurangi pengeluaran rutin, maka kedua-duanya dikelola dengan baik. Pengeluaran harus efisien, sedangkan penerimaan harus dimanfaatkan. Karena selama ini, semua sumber dana penerimaan negara belum dimanfaatkan dengan baik. Contohnya masih adanya wajib pajak yang tidak membayar pajak. Dengan besarnya dana penerimaan dan efisiensinya pengeluaran rutin tidak akan memperkuat pinjaman pemerintah.

Jika tabungan pemerintah masih kurang, baru dicarikan pinjaman luar negeri. Memang bagaimanapun tidak ada satu negara pun di dunia yang bisa lepas dari pinjaman, apalagi yang masih membangun. Hanya saja komposisinya yang perlu diatur.

Sumber: www.tempo.co.id

Tabungan Swasta Dosmetik

Hasil usaha pribadi termasuk tabungan rumah tangga.

Gambar 8.3 Hasil usaha pribadi termasuk tabungan rumah tangga

Di banyak negara, tabungan swasta memberikan peran besar dalam menunjang pembentukan modal. Pengumpulan tabungan swasta domestik berhasil dengan baik jika masyarakat berhasil mengurangi tingkat konsumsinya. Tabungan swasta terdiri atas dua komponen yaitu tabungan rumah tangga dan tabungan perusahaan.

Tabungan Rumah Tangga

Tabungan rumah tangga meliputi tabungan yang berasal dari upah, hasil usaha-usaha pribadi, partnership dan bentuk-bentuk bisnis nonkorporasi. Tabungan rumah tangga akan sangat rendah jika tingkat pendapatan rendah, tetapi kecenderungan berkonsumsi tetap tinggi. Sedikitnya tabungan yang dimiliki masyarakat karena tingginya tingkat belanja rumah tangga untuk konsumsi kebutuhan primer, biaya anak sekolah, dan kebutuhan lain.

Tabungan Perusahaan

Tabungan perusahaan merupakan laba yang ditahan oleh perusahaan-perusahaan setelah pendapatan bersih perusahaan dikurangi dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham. Jika perusahaan-perusahaan di suatu negara masih banyak yang berskala kecil, maka tingkat tabungannya juga relatif lebih rendah. Perusahaan yang kecil juga mengalami kesulitan menyisihkan banyak tabungan. Selain itu, perusahaan sulit menabung karena tingginya jumlah dana untuk membayar utang.

Tabungan Asing/Luar Negeri

Tabungan asing/luar negeri berasal dari dua sumber, yaitu tabungan pemerintah asing atau bantuan luar negeri dan tabungan swasta asing yang terdiri atas investasi asing terutama oleh perusahaan multinasional dan pinjaman komersial eksternal.

Komponen-komponen tabungan ini penting untuk mengetahui aliran modal keluar atau investasi yang menggambarkan penggunaan tabungan. Jumlah tabungan yang tersedia di suatu negara secara sederhana merupakan jumlah tabungan pemerintah, tabungan domestik, dan tabungan asing.

Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan

Bentuk kurva dari fungsi konsumsi.

Gambar 8.4 Bentuk kurva dari fungsi konsumsi.

Meskipun faktor penentu konsumsi sektor rumah tangga cukup banyak, namun Anda hanya akan belajar tentang hubungan antara konsumsi dan pendapatan. Seperti telah Anda ketahui bahwa jumlah konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga berhubungan langsung dengan pendapatannya. Hubungan antara konsumsi dengan pendapatan dinamakan fungsi konsumsi. Seperti apakah bentuk fungsi konsumsi ini? Perhatikan gambar di samping. Fungsi konsumsi menggambarkan tingkat konsumsi pada masing-masing tingkat pendapatan sektor rumah tangga. Dari gambar tersebut, Anda bisa melihat karakteristik dari kurva konsumsi.

  1. Kurva konsumsi memiliki slope (kemiringan) positif. Artinya, bila pendapatan (Y) naik, maka konsumsinya (C) juga naik.
  2. Kurva konsumsi memotong sumbu C di atas nol. Artinya, walaupun pendapatan nol, konsumsinya masih positif. Contohnya pengangguran, anak-anak, orang yang sudah tua dan tidak berpendapatan, tetap melakukan konsumsi walaupun tidak memiliki pendapatan.
  3. Konsumsi tidak dapat nol. Artinya, meskipun tidak memiliki pendapatan, konsumsi tetap harus dilakukan, bisa dengan jalan meminjam atau menarik tabungan.

Dari penjelasan tersebut fungsi atau persamaan konsumsi dirumuskan sebagai berikut.

C = a + b Y

Keterangan

Keterangan: C = Konsumsi agregat.

Y = Pendapatan disposabel.

a = Konsumsi otonom (autonomous consumption), titik di mana persamaan konsumsi memotong sumbu C.

b=Slope garis, yaitu ‘C/’Y. Setiap terjadi kenaikan pendapatan sebesar ‘Y, maka konsumsi akan meningkat sebanyak b kali ‘Y. Oleh sebab itu, ‘C = b × ‘Y atau ‘C/’Y = b.

 

Konsep yang memberikan gambaran tentang berapa konsumsi akan bertambah apabila pendapatan bertambah satu unit dikenal dengan kecenderungan mengonsumsi marginal (Marginal Propensity to Consume disingkat MPC).

MPC = ΔC / ΔY

Karena jumlah tambahan konsumsi tidak akan lebih besar daripada tambahan pendapatan, maka angka MPC tidak akan lebih besar daripada satu. Angka MPC juga tidak mungkin negatif karena manusia tidak mungkin hidup di bawah batas konsumsi minimal.

Tidak semua pendapatan yang diterima masyarakat digunakan untuk konsumsi.

Gambar 8.5 Tidak semua pendapatan yang diterima masyarakat digunakan untuk konsumsi.

Pendapatan yang diterima masyarakat ternyata tidak digunakan semua untuk konsumsi, sebagian akan digunakan sebagai tabungan. Jadi, tambahan penghasilan juga akan digunakan untuk menambah konsumsi dan tabungan. Besarnya tambahan pendapatan yang menjadi tambahan tabungan disebut kecenderungan menabung marginal (Marginal Propensity to Save, disingkat MPS).

Penjumlahan marginal propensity to consume dan marginal propensity to save adalah satu.

MPC + MPS = 1

Pada saat pendapatan masih rendah, setiap unit tambahan pendapatan sebagian besar dialokasikan untuk konsumsi. Nilai MPC mendekati satu, sedangkan nilai MPS mendekati nol.

Contoh, sebuah fungsi konsumsi C = 500 + 0,8 Y, dari fungsi tersebut, saat pendapatan nasional nol, konsumsi masyarakat sebanyak Rp500 miliar. Besaran angka ini dilambangkan dengan a (autonomous consumption), yaitu besarnya konsumsi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Tanda positif (+) menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi dan pendapatan. Bila pendapatan nasional naik sebanyak Rp1 miliar, konsumsi akan naik sebesar Rp0,8 miliar. Angka 0,8 adalah slope fungsi konsumsi (b) yang nilainya sama dengan ‘C/ ‘Y o 0,8 = 0,8 miliar/1 miliar. Karena MPC sebesar 0,8 maka besarnya MPS adalah 0,2.

Karena pendapatan yang diterima rumah tangga sebagian besar digunakan untuk konsumsi, sedangkan sisanya ditabung, maka dapat dinyatakan:

Y = C + S

S = Y – C

C = a + bY

S= Y – (a + bY)

S = -a + (1- b)Y

S = -a  + MPS Y

Nah, apabila C = 500 + 0,8 Y, maka S = –500 + 0,2 Y.

Selain konsep kecenderungan konsumsi dan tabungan marginal (MPC dan MPS) terdapat konsep lain yang perlu Anda ketahui yaitu kecenderungan konsumsi rata-rata (average propensity to consume disingkat APC) dan kecenderungan tabungan rata-rata (average propensity to save disingkat APS). APC adalah perbandingan antara tingkat konsumsi dengan tingkat pendapatan. APS menggambarkan perbandingan antara tingkat tabungan dengan tingkat pendapatan. Secara matematis, dirumuskan APC + APS = 1.

APC = C/Y

APS = S/Y

maka = C/Y + S/Y + Y/Y = 1

Untuk memudahkan Anda  dalam membedakan konsep MPC dan MPS dengan APC dan APS, lihatlah contoh perhitungan dengan menggunakan fungsi C = 500 + 0,8 Y pada tabel berikut.

Tabel 8.1 Penentuan MPC, MPS, APC dan APS dan Fungsi C = 500 + 0.8 Y

Y C MPC APC S  MPS APS
2,000

2,500

4,000

6,000

8,000

10,000

2,100

2,500

3,700

5,300

6,900

8,500

0.8

0.8

0.8

0.8

0.8

 

1,050

1,000

0,925

0,883

0,862

0,850

-100

0

300

700

1: 100

1: 500

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

 

-0.05

0

0.075

0.117

0.138

0.150

Tampak pada tabel besarnya MPC adalah 0,8. Oleh sebab itu, MPSnya sebesar 0,2, baik jumlah MPC ditambah MPS maupun APC ditambah APS adalah 1. Bertambahnya Y akan semakin menurunkan MPC dan sebaliknya akan meningkatkan MPS.

Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi dan pendapatan dari fungsi tersebut, lihatlah tabel berikut ini.

Tabel 8.2 Persamaan Konsumsi C = 500 + 0.8 Y

Y C
0

500

1.000

2.000

2.500

3.000

5.000

8.000

10.000

500

900

1.300

2.100

2.500

2.900

4.500

6,900

8.500

Pada saat pendapatan nol, konsumsi tetap dilakukan, yaitu sebesar Rp500,00. Seiring bertambahnya pendapatan, jumlah yang dikonsumsi juga semakin meningkat. Dengan menurunkan persamaan konsumsi ke persamaan tabungan, kita memperoleh hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan seperti tabel berikut.

Tabel 8.3 Persamaan Tabungan S = =500 + 0.2 Y

Y C s
0

500

1.000

2.000

2.500

3.000

5.000

8.000

10.000

500

900

1.300

2.100

2.500

2.900

4.500

6.900

8.500

 

-500

-400

-300

-100

0

100

500

1.100

1.500

Hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan.

Gambar 8.6 Hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan.

Pada saat pendapatan nol, maka tabungan negatif (dissaving) sebesar Rp500,00. Setelah pendapatan menjadi Rp500,00, tabungan negatifnya berkurang menjadi Rp400,00 dan seterusnya hingga pada saat pendapatan sebesar Rp2.500 tabungannya sebesar nol. Posisi ini menggambarkan bahwa pendapatan yang diterima seluruhnya dialokasikan untuk dikonsumsi, tidak ada sedikit pun yang ditabung. Tetapi jika pendapatan naik, tabungan juga mulai dilakukan dan semakin banyak pendapatan, tabungan juga harus terus meningkat.

Perhatikan hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan pada gambar di samping.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dari gambar tersebut adalah:

  1. Kurva konsumsi dan kurva tabungan mempunyai slope positif. Artinya, besarnya konsumsi (C) maupun tabungan (S) dipengaruhi oleh pendapatan secara positif. Semakin banyak pendapatan, maka konsumsi maupun tabungan juga semakin banyak.
  2. Garis sudut 45° menunjukkan perbandingan antara C dan Y. Semua titik di sepanjang garis sudut 45° adalah titik-titik di mana nilai pada sumbu vertikal sama dengan nilai pada sumbu horizontal.
  3. Bila kurva konsumsi berada di sebelah atas garis sudut 45° besarnya konsumsi melebihi pendapatan dan tabungan adalah negatif. d. Pada saat kurva konsumsi berpotongan dengan garis 45°, konsumsi sama dengan pendapatan, sehingga tabungan adalah nol.

Prinsipnya, pendapatan seseorang akan digunakan untuk konsumsi dan tabungan. Bila pendapatan tetap, seseorang ingin menaikkan konsumsinya maka ia harus mengurangi jumlah yang ditabung. Demikian juga sebaliknya, bila ia ingin menambah tabungannya maka harus rela mengurangi jumlah konsumsi. Untuk masyarakat yang berpendapatan tinggi, akan lebih mudah menambah tabungannya. Hal ini karena dengan pendapatan yang tinggi dan kekayaannya tidak diboroskan untuk hidup mewah maka makin banyak jumlah yang ditabung.

Tabungan masyarakat akan berpengaruh terhadap jumlah uang yang beredar, investasi, produksi, dan besarnya permintaan masyarakat. Yang lebih penting lagi, masyarakat dapat berperan dalam rangka stabilitas dan pembangunan ekonomi melalui tabungan.

Tugas Individu

Pada saat membelanjakan uang memang terasa sangat menyenangkan. Namun, semua kesenangan yang dirasakan dari membelanjakan uang akan cepat hilang. Bahkan terkadang lupa apa saja yang telah kita konsumsi. Selagi belanja, kebanyakan dari kita tidak sadar suatu hari nanti kita akan tua. Padahal masa tua adalah masa bukan masa produksi yang bisa menghasilkan uang lagi. Masa itu merupakan masa untuk menikmati uang yang kita tabung sekarang.

  1. Apa yang Anda lakukan sekarang untuk mempersiapkan masa depan Anda?
  2. Bagaimana menumbuhkan semangat menabung Anda saat ini?

Pengertian Investasi

Menurut pengalaman negara-negara maju terbukti bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi adalah besarnya barang modal dan kualitas sumber daya manusia. Jika sebuah perekonomian ingin maju, maka perekonomian tersebut harus selalu meningkatkan investasinya untuk menambah modal dan kualitas sumber daya manusia.

Investasi dalam Konteks Ekonomi Makro

Investasi bangunan termasuk investasi fisik.

Gambar 8.7 Investasi bangunan termasuk investasi fisik.

Untuk memudahkan pemahaman Anda, kita hanya akan membahas investasi fisik saja. Investasi fisik bisa dalam bentuk barang modal seperti pabrik dan peralatan, bangunan dan persediaan barang (inventory). Investasi merupakan pengeluaran-pengeluaran untuk meningkatkan stok barang modal. Yang dimaksud stok barang modal adalah jumlah barang modal dalam suatu perekonomian pada waktu tertentu. Stok barang modal ini akan dinilai dengan uang, yaitu jumlah barang modal dikalikan harga perolehan per unit barang modal.

Perhitungan investasi harus konsisten dengan perhitungan pendapatan nasional. Artinya, investasi hanya dihitung dari barang modal, bangunan/konstruksi, maupun persediaan barang yang masih baru. Jika ada seorang pengusaha membeli pabrik dan bangunan yang pernah dipakai orang lain, kegiatan tersebut tidak menambah stok barang modal baru sehingga tidak dihitung sebagai investasi.

Investasi dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan

Pembelian peralatan produksi termasuk alat berat termasuk investasi tetap.

Gambar 8.8 Pembelian peralatan produksi termasuk alat berat termasuk investasi tetap.

Yang tercakup dalam investasi barang modal dan bangunan adalah pengeluaranpengeluaran untuk pembelian pabrik-pabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan produksi dan bangunan-bangunan atau gedunggedung baru. Investasi seperti ini sering disebut investasi harta tetap (fixed investment) karena umurnya atau daya tahan barang modal dan bangunan umumnya lebih dari setahun. Di Indonesia, fixed investment lebih dikenal dengan pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB). PMTDB ini dapat dilihat pada statistik PDB Indonesia berdasarkan pengeluaran.

Dalam investasi tetap, perhitungan jumlah investasi perlu dikurangi dengan penyusutan (depresiasi). Penyusutan terhadap barang modal dilakukan agar efisiensi ekonomis dari kegiatan produksi tetap terpelihara, bahkan ditingkatkan. Semakin tua usia mesin pasti produktivitasnya semakin rendah. Jadi, walaupun secara teknis masih dapat digunakan tetapi tidak akan menambah keuntungan, bahkan mungkin justru akan mengurangi keuntungan ekonomisnya.

Contohnya pabrik gula yang mesin-mesinnya telah berusia lima puluh tahun, secara teknis memang masih dapat dipakai untuk menghasilkan gula. Tetapi produktivitas yang dihasilkan sangat rendah, sementara biaya perawatannya sangat tinggi. Lebih baik mesin itu diganti dengan mesin baru dengan menggunakan teknologi yang lebih baru pula.

Investasi Persediaan

Perusahaan sering memproduksi lebih banyak daripada target penjualan. Misalnya sebuah pabrik mobil menargetkan penjualan tahun 2006 sebanyak 5.000 unit. Umumnya, pabrik tersebut akan memproduksi mobil lebih banyak, misalnya 5.500 unit. Selisih 500 unit merupakan persediaan untuk mengantisipasi meningkatnya minat beli konsumen. Persediaan di sini masuk dalam investasi yang diharapkan bisa meningkatkan penghasilan atau keuntungan.

Selain barang jadi, investasi dalam bentuk persediaan bisa diwujudkan dalam bentuk persediaan bahan baku dan barang setengah jadi atau barang yang sedang dalam proses penyelesaian. Tujuannya juga sama yaitu meningkatkan pendapatan atau keuntungan di masa datang.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Investasi

Penguasaan jalur informasi menjadi faktor internal perusahaan.

Gambar 8.9 Penguasaan jalur informasi menjadi faktor internal perusahaan.

Keputusan untuk berinvestasi sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu tingkat pengembalian yang diharapkan dan biaya investasi.

Tingkat Pengembalian yang Diharapkan

Untuk menentukan tingkat pengembalian yang diharapkan, perusahaan harus tahu kondisi internal dan eksternal perusahaan.

Kondisi Internal Perusahaan

Kondisi internal perusahaan adalah faktor-faktor yang berada di bawah kontrol perusahaan. Misalnya saja tingkat efisiensi, kualitas SDM, dan teknologi yang digunakan. Aspek tersebut berhubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan. Jika tingkat efisiensi makin tinggi, kualitas SDM meningkat dan teknologi tinggi, maka tingkat pengembalian yang diharapkan makin tinggi.

Beberapa faktor nonekonomis ternyata juga berpengaruh pada tingkat pengembalian yang diharapkan. Misalnya hak monopoli perusahaan, kedekatan dengan pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.

Kondisi Eksternal Perusahaan

Kondisi eksternal perusahaan yang dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan investasi antara lain perkiraan tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi. Jika perkiraan masa depan ekonomi nasional maupun internasional dinilai baik, biasanya tingkat investasi akan meningkat karena tingkat pengembalian investasi dapat dinaikkan.

Selain perkiraan kondisi ekonomi, kebijakan yang ditempuh pemerintah juga akan berpengaruh pada tingkat investasi. Misalnya kebijakan pemerintah untuk menaikkan pajak diperkirakan akan menurunkan jumlah permintaan. Akibatnya, tingkat investasi juga menurun. Faktor sosial politik dan keamanan negara juga berpengaruh pada tingkat investasi. Jika kondisi sosial politik stabil, investasi umumnya akan meningkat.

Tugas Individu

Pemerintah sampai saat ini masih sibuk meningkatkan gairah investasi di negara kita. Tetapi kegiatan investasi di Indonesia masih terus mengalami hambatan dan tantangan.

Hambatan dan tantangan apa yang terus menjadi kendala investasi di Indonesia jika dikaitkan dengan kondisi eksternal perusahaan? Carilah sumber-sumber relevan untuk mendukung jawaban Anda.

Biaya Investasi

Tingkat biaya investasi ditentukan oleh tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi tingkat bunganya, maka biaya investasi makin mahal. Hal tersebut akan mengurangi minat investasi. Hal lain yang memengaruhi tingkat biaya investasi adalah masalah kelembagaan, contohnya prosedur izin yang berbelit-belit dan lama. Jadi, walaupun tingkat bunga rendah tetapi jika prosedur izinnya sulit tetap saja tingkat investasi akan turun.

Permintaan Investasi

Investasi diperlukan bagi produksi untuk membiayai bangunan pabrik, mesin, dan alat-alat, serta bahan-bahan yang disebut barang produksi atau barang modal. Dari hal ini maka permintaan investasi berasal dari rumah tangga produksi.

Kurva Permintaan Investasi

Pilihan proyek investasi pada mesin industri.

Gambar 8.10 Pilihan proyek investasi pada mesin industri.

Dari segi perusahaan secara individual, perusahaan mempunyai kurva permintaan akan investasinya. Selanjutnya, jika semua kurva permintaan investasi perusahaan individual tersebut dijumlahkan, maka akan diperoleh kurva investasi oleh seluruh masyarakat pengusaha di sektor bisnis. Kurva permintaan investasi perusahaan individual disusun berdasarkan pada berbagai pilihan proyek investasi termasuk investasi mesin, alat-alat produksi, bangunan perluasan bidang usaha. Misalnya, PT Gelora Raya ingin memperluas usahanya di bidang industri dengan rencana investasi pada tabel berikut.

Tabel 8.4 Rencana Investasi PT Gelora Raya

Rencana Investasi Dana yang Dibutuhkan (miliar Rupiah) Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (persen/tahun)
Industri Farmasi 1500 30
Industri Makanan 1000 25
Industri Tekstil 750 20
Industri Kimia 500 18
Industri Pertanian 250 15

 

 

Kemudian rencana investasi di atas disusun dalam diagram berdasarkan ranking tingkat pengembalian yang diharapkan. Penyusunan berdasarkan ranking tersebut dilakukan untuk mempermudah pengambilan keputusan akan investasi mana yang harus dilakukan berkaitan dengan tingkat bunga pinjaman yang berlaku.

Diagram hubungan antara rencana investasi dan tingkat pengembalian yang diharapkan pada PT Gelora Raya.

Gambar 8.11 Diagram hubungan antara rencana investasi dan tingkat pengembalian yang diharapkan pada PT Gelora Raya.

Pada saat tingkat bunga pinjaman hanya sebesar 12,5% per tahun, maka seluruh rencana investasi tersebut dapat dilaksanakan. Dengan demikian, permintaan akan investasi PT Gelora Raya adalah sebesar Rp4.000 miliar. Tetapi jika tingkat bunga naik menjadi 16% per tahun, maka rencana investasi industri pertanian harus dibatalkan. Pembatalan ini menyebabkan permintaan akan investasi PT Gelora Raya berkurang menjadi Rp3.750 miliar. Jika tingkat bunga pinjaman terus naik sampai 28% per tahun, rencana investasi yang layak hanya industri farmasi dan permintaan investasinya hanya Rp1.500 miliar. Jika tingkat bunga mencapai 30% per tahun, tidak ada rencana investasi yang layak lagi sehingga permintaan investasinya sama dengan nol.

Makin tinggi tingkat bunga, maka permintaan investasi makin menurun. Perhatikan hubungan tersebut pada kasus PT Gelora Raya pada tabel berikut.

Tabel 8.5 Hubungan antara  Tingkat Bunga Pinjaman dan Permintaan Investasi

Tingkat Bunga Pinjaman

(% per tahun)

Permintaan Investasi

(miliar rupiah)

13 4000
17 3750
19 3250
21 2500
26 1500
31 0

 

Tabel tersebut dapat digambarkan dalam kurva permintaan akan investasi PT Gelora Raya. Slope (kemiringan) kurva permintaan akan investasi berlereng negatif. Artinya, antara tingkat bunga dan investasi mempunyai hubungan yang berlawanan arah.

Kurva permintaan investasi PT Gelora Raya.

Gambar 8.12 Kurva permintaan investasi PT Gelora Raya.

Kurva permintaan investasi agregatif.

Gambar 8.13 Kurva permintaan investasi agregatif.

Perusahaan individu lainnya pun mempunyai kurva permintaan investasi yang serupa walaupun bentuknya tidak sama persis. Kurva permintaan investasi agregatif total seluruh perekonomian diperoleh dengan menjumlahkan semua kurva permintaan investasi perusahaan-perusahaan individu. Bila dalam perekonomian terdapat banyak perusahaan individu maka diperoleh kurva permintaan investasi agregatif yang berlereng menurun. Hal ini berarti bila hal-hal lain tetap (tidak berubah) maka pada saat tingkat bunga rendah, permintaan investasi akan naik dan begitu pula sebaliknya, atau dengan kata lain permintaan investasi merupakan fungsi dari tingkat suku bunga dan antara dua variabel tersebut mempunyai hubungan negatif. Fungsi investasi ditulis sebagai berikut.

I = I (i)

dimana:

I = investasi

i = tingkat suku bunga

Dengan logika ekonomi Anda bisa memahami mengapa fungsi investasi mempunyai hubungan negatif. Apabila tingkat bunga tinggi, orang akan lebih senang menyimpan uangnya di bank daripada menginvestasikannya. Hal ini karena harapan hasil yang akan diperoleh dari bunga bank lebih besar daripada tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi. Akibatnya, permintaan investasi menurun. Tetapi jika tingkat bunga rendah, orang akan lebih senang menggunakan uangnya untuk penanaman modal daripada menyimpannya di bank. Tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi lebih besar daripada harapan hasil yang akan diterima dari bunga bank sehingga permintaan investasi naik.

Pergeseran Kurva Permintaan Investasi

Dari uraian tadi, pasti jelas bagi Anda  bahwa tingkat suku bunga merupakan faktor yang menentukan permintaan investasi. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan pergeseran kurva permintaan investasi.

Biaya Pembelian, Pengoperasian, dan Pemeliharaan Barang Modal

Bila pembelian, pengoperasian, dan pemeliharaan barang modal tinggi, maka tingkat keuntungan bersih yang diharapkan dari proyek-proyek investasi akan turun. Turunnya investasi ini menyebabkan kurva permintaan investasi bergeser ke kiri. Hal sebaliknya terjadi bila ada penurunan biaya-biaya tersebut.

Pajak Perusahaan

Pada saat berinvestasi, para pengusaha akan mempertimbangkan besarnya keuntungan yang diharapkan sesudah pajak. Kenaikan pajak perusahaan pasti akan menurunkan tingkat keuntungan bersih yang diharapkan. Dampak selanjutnya adalah turunnya permintaan investasi sehingga menggeser kurva permintaan investasi ke kiri. Hal sebaliknya akan terjadi pada saat ada penurunan pajak perusahaan.

Perubahan Teknologi

Kemajuan teknologi seperti penemuan mesin baru, pengembangan produk baru, dan penemuan proses produksi baru akan mendorong investasi. Penemuan mesin yang lebih efisien akan menurunkan biaya produksi dan menghasilkan perbaikan kualitas produksi yang selanjutnya akan menaikkan tingkat keuntungan bersih pada investasi mesin tersebut. Produk elektronik baru seperti komputer canggih yang bisa mengefisienkan proses produksi akan mendorong investasi. Jadi, kemajuan teknologi yang cepat akan menggeser permintaan investasi ke kanan.

Banyaknya Barang Modal yang Dimiliki

Bila terdapat cukup banyak barang modal dan persediaan barang-barang jadi, maka investasi akan mengalami penurunan. Hal ini karena pada industri tersebut telah tersedia cukup banyak alat produksi dan persediaan yang mampu memenuhi permintaan sekarang maupun di masa depan. Kelebihan kapasitas produksi cenderung akan menggeser kurva permintaan investasi ke kiri dan sebaliknya kelangkaan barang modal akan menggeser kurva permintaan investasi ke kanan.

Perkiraan Keuntungan

Perkiraan keuntungan tergantung pada perkiraan penjualan hasil produksi barang modal yang digunakan. Perkiraan bisnis harus memasukkan beberapa faktor antara lain situasi politik, pertumbuhan penduduk, kondisi pasar, dan lain-lain. Jika situasi ini mendukung, maka akan menggeser kurva permintaan investasi ke kanan dan begitu sebaliknya.

Bursa Info

Sumber-Sumber Investasi

Jelas sekali bahwa investasi memerlukan dana. Nah, dari manakah dunia usaha mendapatkan dana untuk investasi tersebut?

Sumber Ivestasi Intern

Sumber intern investasi yang penting berasal dari: a. Dana penyusutan, yaitu dana yang diperhitungkan sebagai biaya produksi dan kemudian disisihkan untuk mengganti perlengkapan produksi yang tua, aus atau rusak. b. Dana cadangan, yaitu sisa hasil usaha atau laba yang tidak dibagikan melainkan ditahan untuk membiayai ekspansi atau perluasan usaha.

Sumber Investasi Ekstern

Sumber ekstern investasi meliputi: a. Kredit bank, berasal dari tabungan masyarakat yang disalurkan ke dunia usaha melalui perbankan. b. Pasar modal, yang menyalurkan tabungan masyarakat dalam bentuk saham atau obligasi. c. Pemerintah, melalui dana anggaran pembangunan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) untuk membiayai proyek pembangunan. d. Luar negeri, dalam bentuk kerja sama, penanaman modal asing dan bantuan kredit.

Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Perusahaan harus selalu menjaga keuntungan dengan cara mempertahankan tingkat produksinya agar tidak berkurang. Untuk itu stok barang modal juga tidak boleh berkurang. Tadi sudah Anda pahami bahwa investasi merupakan upaya untuk memelihara stok barang modal yang diperlukan suatu perusahaan.

Berapakah besarnya investasi yang harus dilakukan untuk memelihara stok barang modal yang diharapkan? Misalnya, nilai barangbarang modal yang harus tersedia supaya perusahaan dapat mempertahankan tingkat produksi adalah Rp10 juta. Penyusutan sebesar 10% per tahun. Maka investasi per tahun adalah 10% × Rp10 juta = Rp1 juta. Jika perusahaan ingin meningkatkan kapasitas produksi maka investasi yang dilakukan harus lebih besar daripada Rp1 juta. Hal ini dilakukan agar stok barang modal bisa menjadi lebih besar dari Rp10 juta.

Keputusan setiap perusahaan untuk terus meningkatkan stok barang modal akan berdampak negatif pada perekonomian. Hal ini karena peningkatan stok barang modal secara nasional akan meningkatkan kegiatan produksi yang akan berdampak negatif pada perluasan kesempatan kerja. Penggunaan barang modal seperti mesin-mesin akan menggeser penggunaan sumber daya manusia dalam proses produksi sehingga kesempatan kerja menjadi berkurang.

Tugas Kelompok

Anda telah mengetahui bahwa investasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Sekarang buatlah kelompok diskusi yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang teman Anda. Diskusikan bagaimana tindakan pemerintah untuk meningkatkan investasi di negara kita! Lanjutkan diskusi kelompok Anda dalam diskusi kelas. Buatlah kesimpulan dan kumpulkan hasilnya kepada guru Anda!

Uji Kompetensi

A, Pilihan Ganda

1.Dissaving akan terjadi bila

a. pendapatan nasional sama dengan konsumsi masyarakat
b. pendapatan nasional lebih kecil daripada konsumsi masyarakat
c. pendapatan nasional lebih besar daripada konsumsi masyarakat
d. konsumsi masyarakat lebih kecil dari investasi
e. konsumsi masyarakat sama dengan investasi

2.Faktor yang memengaruhi meningkatnya konsumsi masyarakat adalah

a. suksesnya program keluarga berencana
b. pendapatan rumah tangga menurun
c. kekayaan rumah tangga menurun
d. tingkat bunga menuru
e. tingkat pendidikan masyarakat turun

3,Pada saat pendapatan Rp250.000,00 keseluruhan habis dikonsumsi. Dan pada saat pendapatan Rp350.000,00 besarnya konsumsi Rp315.000,00. Maka besarnya MPS adalah

a. 0,73 d. 0,45
b. 0,65 e. 0,35
c. 0,50

4. Saat pendapatan nasional 5.000 besarnya tabungan 1.500. Dan ketika pendapatan naik 8.000, besar tabungan 2.700.

Fungsi konsumsi dari data tersebut dinyatakan

a. C = 1.000 + 0,6y
b. C = 600 + 0,75y
c. C = 500 + 0,75y
d. C = 500 + 0,6y
e. C = 300 + 0,6y

5. Fungsi konsumsi adalah C = 100.000 + 0,6y. Bila diketahui besarnya konsumsi Rp430.000,00 maka besarnya pendapatan adalah

a. Rp430.000,00 d. Rp600.000,00
b. Rp530.000,00 e. Rp630.000,00
c. Rp550.000,00

6. Diketahui fungsi konsumsi masyarakat sama dengan C = 60 miliar + 0,7y. Jika pendapatan nasional sama dengan Rp300.000 miliar, maka besarnya tabungan masyarakat adalah . . . miliar.

a. Rp210.060 d. Rp90.000
b. Rp210.000 e. Rp89.940
c. Rp90.060

7. Kondisi eksternal perusahaan yang memengaruhi investasi adalah

a. kualitas SDM d. tingkat efisiensi
b. kebijakan pemerintah e. hak monopoli perusahaan
c. teknologi

8. Faktor yang memengaruhi penurunan investasi adalah

a. kenaikan pajak d. kondisi politik stabil
b. kenaikan permintaan e. turunnya tingkat bunga
c. perbaikan birokrasi

9. Bila suku bunga tinggi maka orang lebih senang

a. menginvestasikan uangnya
b. menyimpan uangnya di rumah
c. menabung uangnya di bank
d. membelanjakan uangnya
e. menambah utangnya

10. Penambahan investasi berdampak pada

a. pertumbuhan ekonomi
b. pengurangan produksi
c. peningkatan pajak
d. penambahan beban utang
e. penambahan pengangguran

B. Soal Uraian

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konsumsi!
  2. Apakah yang dimaksud fungsi konsumsi? Bagaimana pula bentuk kurvanya?
  3. Jelaskan hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan!
  4. Jelaskan tentang kurva permintaan investasi!
  5. Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran kurva investasi!

C. Soal Tantangan (Mari Belajar dari Masalah)

Secara bertahap iklim investasi di Indonesia makin kondusif dan mendekati arah stabil. Unsur penunjangnya adalah peningkatan permintaan investasi, terutama dari investor asing negara industri seperti Amerika dan Eropa. Meski investor masih bersikap wait and see, permintaan investasi terus meningkat. Ini menandakan Indonesia masih menjadi surga investasi. Peningkatan rencana investasi ini terjadi pada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).

Sumber: www.suarakarya-online.com

  1. Jelaskan mengapa terjadi peningkatan permintaan investasi di Indonesia!
  2. Bagaimana pengaruhnya pada perekonomian pada saat ini?
  3. Upaya apa yang perlu dilakukan pemerintah utnuk meningkatkan permintaan investasi ini?

D. Meraih Kompetsi Dasar

1.Konsumsi masyarakat sebuah negara ditunjukkan oleh persamaan C = 30 + 0,8Y.

a. Bagaimana fungsi tabungannya?

b.Berapa besarnya konsumsi tersebut jika besarnya pendapatan nasional 150? C

c. Gambarkan kurva fungsi tabungan dan kurva fungsi konsumsinya!

 

2. Suatu permintaan investasi ditunjukkan oleh persamaan I = 250 – 500i.

a. Berapakah besarnya investasi pada saat tingkat bunga yang berlaku 12%?

b. Berapakah besarnya investasi kalau tingkat bunga yang berlaku 30%?

c. Gambarlah bentuk kurva permintaan investasinya!